[Tabloid Daerah], Dogiyai -- Kepala Distrik Kamuu, Markus Auwe, mengaku diinterogasi dan dihalangi oleh pihak kepolisian saat berupaya mendatangi tempat ditemukannya mayat JE di depan Gereja Ebenhaezer (GKI) yang berlokasi di Jalan Trans Papua Km.200, Moanemani, Distrik Kamuu, Kabupaten Dogiyai, Papua Tengah, pada Selasa (31/3/2026) siang.
Auwe menceritakan, saat itu dirinya baru saja mengikuti kegiatan Musrenbang Otonomi Khusus di Aula Koteka Moge.
Kemudian, setelah mendapat informasi adanya kericuhan di sekitar pasar, dirinya langsung bergerak menuju lokasi bersama Kapolsek Kamuu. Namun, aksinya dibatasi oleh petugas keamanan di lapangan.
“Dari tempat kegiatan, setelah saya dapat informasi tindakan kekerasan di sekitar pasar, saya langsung ke TKP guna mengetahui motifnya, tapi saya disuruh kembali oleh pihak keamanan di lokasi tersebut,” ujar Auwe kepada awak media, Kamis (2/4/2026), pagi.
Menurutnya, meskipun lokasi kejadian berada di dalam wilayah kerja Distrik Kamuu, dirinya tidak diperbolehkan turun langsung ke titik keributan.
“Saya tidak berjalan sendiri, sebenarnya saya bersama Kapolsek Kamuu, tetapi saya dibatasi pihak keamanan untuk mendatangi tempat kejadian perkara,” tambahnya.
Setelah dihalangi, Auwe memilih kembali ke kantor distrik untuk mengoordinasikan situasi dengan jajarannya.
Beberapa jam kemudian, dirinya berniat kembali turun bersama seorang wartawan untuk melakukan negosiasi antara aparat dan kelompok pemuda yang memblokir jalan.
Namun, di Jalan Masuk Susteran, rombongan kembali dihadang. Auwe mengaku dirinya dan wartawan mendapat perlakuan tidak menyenangkan hingga menimbulkan trauma.
“Saat saya bersama wartawan Aleks Waine dalam perjalanan menuju jalan masuk susteran, kami dihadang oleh sekelompok polisi dan bahkan diancam dengan kata-kata yang membuat kami trauma,” ungkapnya.
Setelah melalui proses komunikasi yang alot, akhirnya keduanya diizinkan melanjutkan perjalanan untuk bernegosiasi guna meredakan ketegangan.
Wow! Ini Ancamannya: "Meratakan Habis Warga".
Kepala Distrik dan wartawan yang turut dalam kejadian tersebut, Aleks Waine, membenarkan peristiwa penghadangan itu.
Ia menyebut bahwa sebelum turun ke lapangan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan pimpinan kepolisian melalui pesan singkat untuk memastikan keamanan.
“Sebelum turun, situasi memang sangat tegang. Saya dan Pak Kadist sudah berkoordinasi dengan Kapolsek Kamuu agar kami bisa turun langsung bernegosiasi dengan kelompok pemuda agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” jelas Aleks yang akrab disapa AWD.
Namun di lapangan, kata Aleks, ada oknum anggota polisi yang mengeluarkan ucapan provokatif. Ia menyebut salah satu anggota yang bertuliskan nama 'William' di dada kanan sempat mengancam.
“William itu mengancam akan meratakan habis warga Dogiyai. Dia juga menyampaikan kalau orang Dogiyai ke depan tidak boleh melakukan demonstrasi,” tutur Aleks.
Selain itu, lanjut Aleks, anggota tersebut menuntut masyarakat untuk segera mengungkap identitas pelaku pembunuhan JE. Padahal, menurutnya, tugas penegakan hukum dan penyelidikan adalah wewenang kepolisian.
“Dia menyampaikan masyarakat harus ungkap pelaku yang bunuh JE. Tapi dalam hati saya berpikir, sebenarnya untuk mengungkap pelaku adalah tugas Polisi, bukan kami,” pungkasnya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada konfirmasi resmi dari Pihak Kepolisian Resor Dogiyai terkait tuduhan ancaman dan perlakuan terhadap pejabat distrik serta awak media tersebut.(*)
Penulis: Ril
Editor: Kebagibui Deto

