Iklan

iklan

Bukan Sekadar Seremoni: Diskusi Kritis 'Februari Bergerak' Jadi Ruang Konsolidasi Ideologis Gerakan Pembebasan Papua

Tabloid Daerah
2.02.2026 | 2:39:00 PM WIB Last Updated 2026-02-02T09:20:42Z
iklan
Flayer Lusiver Papua "Februari Bergerak, Maret Melawan", dikeluarkan pada Senin (2/2/2026). (#Istimewa)

[Tabloid Daerah], Nabire -- Latar konflik dan ketidakadilan struktural di Tanah Papua selalu menyisakan luka paling dalam di tubuh perempuan.

Menjelang Hari Perempuan Internasional 8 Maret, Lingkar Studi Revolusioner (Lusiver) Papua tak ingin peringatan itu hanya jadi seremonial belaka.

Mereka memilih untuk bergerak. Lusiver Papua secara resmi meluncurkan rangkaian diskusi mingguan bertajuk “Februari Bergerak, Maret Melawan” yang secara eksplisit mengangkat tema-tema kritis seputar perjuangan Perempuan Papua, Militerisme, hingga tuntutan pembebasan nasional.

Rangkaian diskusi ini secara daring dimulai, pada Senin (2/2/2026) ini, menurut Penanggung Jawab Kegiatan, Jefri Wenda, adalah upaya mendasar untuk membangun kesadaran politik kritis sekaligus memperkuat posisi perempuan dalam Gerakan Pembebasan Papua.

Wenda menegaskan, diskusi ini terbuka lebar bagi mahasiswa, pemuda, aktivis perempuan, serta masyarakat umum yang rindu terlibat dalam pemikiran kritis tentang Tanah Papua.

Menurutnya, ketidakadilan struktural, baik melalui kebijakan pembangunan, operasi militer, maupun eksploitasi sumber daya alam, berdampak paling brutal pada kelompok perempuan.

“Agenda Februari Bergerak, Maret Melawan kami rancang sebagai ruang belajar dan konsolidasi ideologis. Perjuangan perempuan Papua tidak bisa dipisahkan dari perjuangan pembebasan nasional,” kata Jefri Wenda, dikutip dari keterangan resminya via sambungan WhatsApp.

Jefri menyoroti betapa gentingnya situasi ini. “Tidak ada pembebasan nasional tanpa pembebasan perempuan. Ini bukan sekadar slogan, tetapi realitas perjuangan,” pungkasnya menohok.

Ia menambahkan, perempuan Papua hari ini menjadi kelompok paling rentan dalam situasi konflik dan kolonialisme.

Lusiver membagi rangkaian diskusi ini dalam empat tema utama yang fokus pada persoalan hulu hingga hilir. Minggu pertama mengangkat tema, "PSN, LSM Gereja di Tengah Gerakan Rakyat Papua", membahas relasi Proyek Strategis Nasional dengan masyarakat adat.

Sementara itu, di Minggu kedua, diskusi bertajuk “Seksisme dan Valentin”, akan mengulas persoalan seksisme, budaya patriarki, dan komersialisasi tubuh perempuan dalam konteks sosial modern yang tak jarang menggerus martabat.

Tak kalah penting, pada Minggu ketiga, tema diskusi difokuskan pada, “Perempuan dan Cengkeraman Operasi Militer”. Ini akan menjadi sorotan tajam pada pengalaman perempuan Papua di wilayah konflik bersenjata dan dampak mengerikan kehadiran aparat keamanan terhadap kehidupan sosial masyarakat.

“Kami ingin memastikan bahwa peringatan 8 Maret tidak berhenti pada seremoni, tetapi menjadi momentum perlawanan terhadap penindasan, ketidakadilan, dan kekerasan yang dialami perempuan Papua,” ungkap Wenda.

Sebagai bagian dari sikap politik Lusiver Papua, Jefri Wenda turut menegaskan sejumlah tuntutan politik yang menjadi payung gerakan ini, yakni pembubaran Majelis Rakyat Papua (MRP), pencabutan Otonomi Khusus, penarikan militer dari Tanah Papua, Tutup Freeport, dan berikan hak menentukan nasib sendiri sebagai solusi demokratis bagi Papua.(*)



Penulis: Kebagibui Deto
Baca Juga
iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Bukan Sekadar Seremoni: Diskusi Kritis 'Februari Bergerak' Jadi Ruang Konsolidasi Ideologis Gerakan Pembebasan Papua
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan

Trending Now

iklan
iklan
iklan

Iklan

iklan