Iklan

iklan

Masyarakat Simapitowa Nobar Film 'Pesta Babi': Suatu Alaram Bahaya Investasi Liar di Papua

Tabloid Daerah
6.14.2026 | 10:38:00 AM WIB Last Updated 2026-06-14T07:43:24Z
iklan
Ratusan warga Simapitowa berkumpul di Aula SMK Negeri 2 Jayanti, Nabire, Sabtu (13/6/2026) siang, untuk Nobar Film "Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita".(Ist.)


[Tabloid Daerah], Nabire -- Ratusan warga Simapitowa berkumpul di Aula SMK Negeri 2 Jayanti, Nabire, Sabtu (13/6/2026) siang, untuk menyaksikan film 'Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita' sebagai upaya kolektif membentengi tanah adat dari ancaman investasi liar.
‎Suasana Aula SMK Negeri 2 Jayanti mendadak hening saat visual film 'Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita' mulai berpendar di layar.
‎Bagi masyarakat dari delapan wilayah; Siriwo, Dipa, Menou, Mapiha, Piyaiye, Sukikai, Topo, dan Wanggar (Simapitowa), acara nonton bareng (nobar) ini bukan sekadar hiburan akhir pekan, melainkan sebuah refleksi atas ancaman nyata yang mengepung ruang hidup mereka.
‎Marius Petege, penanggap film dalam diskusi tersebut, menegaskan bahwa karya sinematik ini menjadi medium edukasi vital.
‎Menurutnya, Film ini memberikan gambaran jernih mengenai pola perampasan tanah yang kerap dibungkus dengan narasi pembangunan.
‎Petege mengingatkan warga bahwa tanah bukan sekadar komoditas, melainkan identitas dan sumber kehidupan yang tak tergantikan.
‎"Jangan jual tanah adat. Jika kita jual tanah adat, sama saja kita jual napas hidup," tegas Petege sembari diskusi bersama tokoh adat hingga aktivis muda.
‎Ia menekankan bahwa perlawanan terhadap eksploitasi tidak harus dilakukan dengan kekerasan.
‎Baginya, protes melalui demonstrasi, dialog, dan tulisan adalah senjata yang jauh lebih tajam untuk menghadapi tekanan negara dan investor.
‎Bayang-bayang kegagalan Program Strategis Nasional (PSN) di Merauke turut menjadi sorotan dalam diskusi tersebut.
‎Apa yang terjadi di Papua Selatan itu, dipandang sebagai cermin ketidakadilan yang bisa menimpa siapa saja jika masyarakat adat lengah.
‎Ketua Dewan Adat Pemuda Papua Tengah, Abeth Gobai, menyebut dinamika ini bukan lagi isu lokal, melainkan ancaman sistemik yang merayap ke seluruh pelosok Bumi Papua.
‎Gobai menyoroti perlunya penguatan lembaga adat yang mandiri dan berintegritas.
‎Menurutnya, benteng terakhir masyarakat adalah lembaga adat yang berani berkata tidak kepada kepentingan militer maupun pemerintah yang merugikan rakyat.
‎Ia menyebut film 'Pesta Babi' berhasil memotret bagaimana negara, elit nasional, dan oligarki kerap berkelindan dalam satu kepentingan yang sama.
‎Acara yang dimulai pukul 12.00 WIT ini dihadiri oleh spektrum massa yang luas, mulai dari Komisariat Daerah Pemuda Katolik, komunitas Green Papua, hingga tokoh masyarakat setempat.
‎Nobar ini berakhir dengan kesepakatan tak tertulis: menjaga tanah Simapitowa adalah harga mati demi masa depan generasi Papua.(*)



Penulis: Kebagibui Deto
Baca Juga
iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Masyarakat Simapitowa Nobar Film 'Pesta Babi': Suatu Alaram Bahaya Investasi Liar di Papua
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan

Trending Now

iklan
iklan
iklan

Iklan

iklan