![]() |
| Ratusan warga Simapitowa berkumpul di Aula SMK Negeri 2 Jayanti, Nabire, Sabtu (13/6/2026) siang, untuk Nobar Film "Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita".(Ist.) |
[Tabloid Daerah], Nabire -- Ratusan warga Simapitowa berkumpul di Aula SMK Negeri 2 Jayanti, Nabire, Sabtu (13/6/2026) siang, untuk menyaksikan film 'Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita' sebagai upaya kolektif membentengi tanah adat dari ancaman investasi liar.
Suasana Aula SMK Negeri 2 Jayanti mendadak hening saat visual film 'Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita' mulai berpendar di layar.
Bagi masyarakat dari delapan wilayah; Siriwo, Dipa, Menou, Mapiha, Piyaiye, Sukikai, Topo, dan Wanggar (Simapitowa), acara nonton bareng (nobar) ini bukan sekadar hiburan akhir pekan, melainkan sebuah refleksi atas ancaman nyata yang mengepung ruang hidup mereka.
Marius Petege, penanggap film dalam diskusi tersebut, menegaskan bahwa karya sinematik ini menjadi medium edukasi vital.
Menurutnya, Film ini memberikan gambaran jernih mengenai pola perampasan tanah yang kerap dibungkus dengan narasi pembangunan.
Petege mengingatkan warga bahwa tanah bukan sekadar komoditas, melainkan identitas dan sumber kehidupan yang tak tergantikan.
"Jangan jual tanah adat. Jika kita jual tanah adat, sama saja kita jual napas hidup," tegas Petege sembari diskusi bersama tokoh adat hingga aktivis muda.
Ia menekankan bahwa perlawanan terhadap eksploitasi tidak harus dilakukan dengan kekerasan.
Baginya, protes melalui demonstrasi, dialog, dan tulisan adalah senjata yang jauh lebih tajam untuk menghadapi tekanan negara dan investor.
Bayang-bayang kegagalan Program Strategis Nasional (PSN) di Merauke turut menjadi sorotan dalam diskusi tersebut.
Apa yang terjadi di Papua Selatan itu, dipandang sebagai cermin ketidakadilan yang bisa menimpa siapa saja jika masyarakat adat lengah.
Ketua Dewan Adat Pemuda Papua Tengah, Abeth Gobai, menyebut dinamika ini bukan lagi isu lokal, melainkan ancaman sistemik yang merayap ke seluruh pelosok Bumi Papua.
Gobai menyoroti perlunya penguatan lembaga adat yang mandiri dan berintegritas.
Menurutnya, benteng terakhir masyarakat adalah lembaga adat yang berani berkata tidak kepada kepentingan militer maupun pemerintah yang merugikan rakyat.
Ia menyebut film 'Pesta Babi' berhasil memotret bagaimana negara, elit nasional, dan oligarki kerap berkelindan dalam satu kepentingan yang sama.
Acara yang dimulai pukul 12.00 WIT ini dihadiri oleh spektrum massa yang luas, mulai dari Komisariat Daerah Pemuda Katolik, komunitas Green Papua, hingga tokoh masyarakat setempat.
Nobar ini berakhir dengan kesepakatan tak tertulis: menjaga tanah Simapitowa adalah harga mati demi masa depan generasi Papua.(*)
Penulis: Kebagibui Deto

