[Tabloid Daerah], Nabire -- Ketua Fans Brasil Nabire, Jek Kobogau mendesak Tim Samba menyapu bersih dua laga tersisa Grup C Piala Dunia 2026 demi mengamankan tiket babak gugur usai ditahan imbang Maroko di laga pembuka.
Minggu pagi di Kelurahan Morgo biasanya sunyi oleh khidmat ibadah. Namun, 14 Juni 2026 menjadi pengecualian.
Halaman GOR Kota Lama Nabire sesak. Parkiran motor dan mobil meluap hingga ke bahu Jalan Trikora. Bukan untuk ibadah minggu, melainkan demi menyaksikan 'Selecao' berlaga di layar tancap raksasa.
Wajah Jek Kobogau tampak tegang. Koordinator Fans Brasil Nabire sekaligus Kepala Bidang Olahraga Provinsi Papua Tengah itu tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya.
Hasil imbang 1-1 melawan Maroko terasa seperti kekalahan di tengah ekspektasi tinggi publik Papua yang fanatik terhadap sepak bola Amerika Latin tersebut.
"Saya sangat kecewa. Kalau Haiti atau Skotlandia salah satunya menang, posisi Brasil akan sangat berat," ujar Jek saat ditemui di sela kerumunan massa yang masih mengenakan atribut kuning-hijau.
Baginya, Maroko tampil sangat disiplin, menutup ruang gerak pemain Brasil hingga peluang gol sulit tercipta sepanjang 90 menit pertandingan.
Kini, hitung-hitungan di atas kertas menjadi krusial.
Jek menegaskan tidak ada pilihan lain selain memenangkan dua laga sisa melawan Haiti pada 20 Juni dan Skotlandia pada 25 Juni mendatang.
Targetnya jelas: enam poin penuh untuk memastikan diri sebagai juara grup.
Tekanan kini beralih ke pundak para pemain di lapangan, sekaligus ujian bagi loyalitas pendukung di Nabire.
Meski tensi persaingan memanas, Jek tetap menitipkan pesan damai.
Ia mengundang fans negara lain untuk bergabung dalam nonton bareng berikutnya di markas besar GOR Kota Lama.
Baginya, sportivitas adalah harga mati, jauh di atas rivalitas semu di layar kaca.
Menariknya, euforia ini tidak akan mengganggu tatanan sosial masyarakat Nabire.
Jek memastikan rencana konvoi besar-besaran hanya akan dilakukan di hari kerja, menghindari waktu salat Jumat dan ibadah Minggu pagi. Sebuah kedewasaan dalam ber-euforia yang ia tekankan berulang kali demi menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat di jantung Papua Tengah.(*)
Penulis: Kebagibui Deto

