Iklan

iklan

Ini Kronologisnya: Berawal Dari Ditemukan Mayat Anggota Polisi, Berlanjut 8 Warga Sipil Ditembak Aparat

Tabloid Daerah
4.02.2026 | 11:12:00 AM WIB Last Updated 2026-04-02T09:15:58Z
iklan
Luapan emosi aparat melalui operasi penyisiran balas dendam mengakibatkan korban bagi warga sipil, delapan orang. Diantaranya, lima orang mati tempat dan lainnya luka kritis sedang dirawat, Tragedi Dogiyai Berdarah, 31 Maret - 2 April 2026./Istimewa

[Tabloid Daerah], Dogiyai -- Berawal dari ditemukan mayat Anggota Pilisi dan berlanjut delapan warga sipil yang menjadi korban penembakan aparat kepolisian, ini Kronologi nya yang dihimpun Tim Tabloid Daerah dari berbagai sumber terpercaya.

Data yang dihimpun Tim Tabloid Daerah, situasi memanas berawal dari pihak kepolisian yang sedang bertugas menemukan mayat anggota Satbinmas Polres Dogiyai berinisial JE tepat di depan Gereja Ebenhaezer (GKI) yang berlokasi di Jalan Trans Papua Km.200, Moanemani, Distrik Kamuu, Kabupaten Dogiyai, Papua Tengah, Selasa (31/3/2026) lalu, pagi, sekitar pukul 08.22 waktu Papua.

Lokasi Gereja Ebenhaezer ini berada di kawasan pusat pemerintahan dan pemukiman utama di Dogiyai, atau ditempat pusat keramaian kota Dogiyai.

Data Polres Dogiyai merilis Bripda JE menjalani tugas piket, Senin (30/3/2026) malam, di Pos.

Usai menjalani tugas malam tersebut, keesokan hari, pada Selasa (31/3/2026), pagi pukul 07.00 waktu Papua, Bripda JE pulang ke mess (tempat penginapan). Tidak berselang lama, tepatnya pukul 08.22 waktu Papua, mayatnya ditemukan di depan Gereja Ebenhaezer Moanemani.

Pada pukul 08.30 waktu Papua, mayat Bripda JE dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dogiyai yang berlokasi di Kimupugi, Distrik Kamuu, guna melakukan otopsi, dan dinyatakan luka bacok di bagian leher hingga tewas oleh Orang Tidak Dikenal (OTK).

Menurut pihak kepolisian Dogiyai, besar kemungkinan korban Bripda JE dieksekusi di tempat lain dan diletakkan di tempat lain. Sehingga, sulit menemukan jejak pembunuhannya.

Sementara itu, menurut warga setempat, di Tempat Kejadian Perkara (TKP) adalah tempat umum dan ramai maka tentu pelakunya bisa dilacak karena, pasti disaksikan oleh banyak orang.

Warga setempat justru dikagetkan dengan penemuan mayat tersebut yang ditemukan oleh aparat kepolisian.

Salah satu inteklektual Dogiyai, Simion Petrus Pekei mengisahkan kebiasaan Orang Dogiyai dalam hal persoalan pembunuhan.

"Dalam beberapa kasus, pada umumnya jika ada oknum pemuda yang melakukan pembunuhan maka sudah pasti akan dengan mudah dideteksi oleh warga setempat," ujar Simion Pekei kepada Tadahnews.com di salah satu kafe yang berlokasi di Nabire, Kamis (2/4/2026), siang pukul 13.00 waktu Papua.

Lanjutnya, Namun dalam kasus pembunuhan JE ini sangat sulit dideteksi dan dipastikan siapa pelakunya.

"Korban anggota polisi JE, terkait pelakunya sebenarnya masyarakat menyimpulkan masih misterius, dan atau pelaku pembunuhannya adalah OTK," lanjut Pekei.

Akibat meninggalnya Bripda JE, kepolisian yang bertugas di Dogiyai meluapkan emosinya tanpa melakukan olah TKP guna mencari tahu pelaku dan motifnya.

Pantauan singkat wartawan pasca Dogiyai Berdarah 31 Maret 2026, pihak kepolisian melakukan operasi penyisiran balas dendam, menembak ke arah warga sipil hingga masuk ke rumah-rumah warga.

Luapan emosi aparat melalui operasi penyisiran balas dendam mengakibatkan korban bagi warga sipil, delapan orang. Diantaranya, lima orang mati tempat dan lainnya luka kritis sedang dirawat.

Lima korban mati tempat diantaranya, Siprianus Tibakoto (25 tahun), kena tembakan di kepala mati tempat. Yulita Ester Pigai (80 tahun), seorang mama lansia yang lama menderita lumpuh dan saat istrahat siang, aparat kepolisian menerobos rumah dan menembak di badan mati tempat. Martinus Yobe (14 tahun) anak di bawah umur, kena tembakan di perut hingga merobek dan mengeluarkan usus mati tempat. Ankian Edowai (19 tahun), kena tembakan di kepala mati tempat. Dan, Feri Auwe (20 tahun) kena tembakan mati tempat. 

Sementara itu, korban luka tembak diantara, Maikel Waine (12 tahun) anak di Bawah umur, kena tembakan di dada kiri tembus bahu kiri luka kritis dan sedang dirawat. Kikibi Pigai (20 tahun), kena tembakan di paha tembus hingga luka kritis dan sedang dirawat. dan Yafet Tibakoto belum dikonfirmasi kondisi terakhir.

Peristiwa ini menjadi deretan Panjang pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) dan belum berujung penyelesaiannya. Justru memicu emosi warga atas tindakan penembakan semena-mena hingga lima orang mati tempat dan lainnya luka kritis sedang dirawat.

Peristiwa ini pun merujuk kepada kinerja Kapolres Dogiyai dan Kapolda Papua Tengah yang mendapatkan banyak kritikan.

Kritikan pertama dari Koalisi Masyarakat Akar-rumput Dogiyai menyatakan bahwa copot Kapolres Dogiyai yang tidak melakukan prosedur hukum dalam mengungkapkan pelaku sebenarnya dan motif pembunuhan almarhum anggota kepolisian JE.
  
Kritikan tersebut sama juga dari Koalisi Hukum dan HAM Papua, Dewan Perwakilan Rakyat Provinsi (DPRP) Papua Tengah, DPRK Dogiyai, Mahasiswa Asal Dogiyai di luar Papua dan di dalam Papua, Termasuk Mahasiswa dan Pelajar Asal Dogiyai di Kabupaten Nabire, Pihak Gereja, Jaringan Damai Papua (JDP), Tokoh Pemuda, Perempuan, dan Intelektual Dogiyai.(*)



Penulis: Kebagibui Deto
Baca Juga
iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Ini Kronologisnya: Berawal Dari Ditemukan Mayat Anggota Polisi, Berlanjut 8 Warga Sipil Ditembak Aparat
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan

Trending Now

iklan
iklan
iklan

Iklan

iklan