[Tabloid Daerah], Nabire -- Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Tengah menegaskan komitmennya terhadap investasi Sumber Daya Manusia (SDM) melalui kebijakan Pendidikan Gratis Papua Tengah saat menghadiri wisuda perdana Sekolah Tinggi Teologi Yusuf Makai (STTYM), yang berlokasi di Jalan Menuju Terang, Kali Semen, Distrik Nabire Barat, Kabupaten Nabire, Papua Tengah, Selasa (3/2/2026), pagi pukul 10.00 waktu Papua.
Asisten Bidang Administrasi Umum, Dr. Zakarias Marey, yang mewakili Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa, menyampaikan bahwa momentum Rapat Senat Terbuka Wisuda sekaligus Dies Natalis ke-1 STTYM ini bukan sekadar penanda keberhasilan akademik.
Momen ini adalah tonggak penting dalam perjalanan lembaga teologi yang berkomitmen mencetak SDM beriman, berkarakter, dan berintegritas bagi pembangunan daerah.
Marey menekankan bahwa visi Pemprov untuk mewujudkan Papua Tengah yang cerdas dan sejahtera menempatkan sektor pendidikan sebagai prioritas tak terhindarkan.
Menurutnya, pembangunan tidak hanya tentang fisik dan ekonomi. Tetapi juga, harus menyentuh ranah mental dan spiritual.
“Pemerintah Provinsi Papua Tengah menyadari bahwa pembangunan tidak hanya bertumpu pada aspek fisik dan ekonomi, tetapi juga pada pembangunan mental dan spiritual,” ujar Zakarias Marey dalam sambutannya.
Kehadiran Sekolah Tinggi Teologi Yusuf Makai (STTYM) Nabire, tambahnya, menjadi sangat strategis. Lembaga pendidikan keagamaan ini diharapkan mampu mencetak pemimpin rohani dan pelayan masyarakat yang punya karakter Kristiani, berwawasan kebangsaan, sekaligus cinta tanah Papua.
Marey menyebut, investasi terbaik bagi masa depan tanah ini adalah investasi pada Sumber Daya Manusia (SDM).
Komitmen ini diterjemahkan melalui kebijakan tegas: Pemberian bantuan biaya studi bagi mahasiswa Orang Asli Papua (OAP) dan yang paling vital, kebijakan Pendidikan Gratis Papua Tengah. Dukungan ini juga menyasar langsung lembaga pendidikan keagamaan dan sekolah teologi.
“Kebijakan ini bertujuan agar tidak ada lagi anak-anak Papua Tengah yang putus sekolah atau gagal kuliah hanya karena terkendala biaya,” tegas Marey.
Ia berharap dukungan ini memacu STTYM untuk semakin meningkatkan mutu layanan akademiknya, sehingga orang tua tak perlu ragu menyekolahkan anaknya hingga jenjang perguruan tinggi.
Kepada para wisudawan, Marey berpesan bahwa gelar yang diperoleh hari ini bukanlah garis akhir, melainkan awal dari pengabdian sejati.
“Sebagai lulusan teologi, saudara dipanggil untuk menjadi terang dan garam dunia, membawa nilai-nilai kasih, kejujuran, kedamaian, serta keadilan sosial di tengah kehidupan masyarakat Papua yang majemuk,” tutupnya, menyerukan agar lulusan mampu berkontribusi nyata bagi gereja, masyarakat, dan pemerintah daerah.(*)
Penulis: Amatenay Douw
Editor: Kebagibui Deto

