Iklan

iklan

Sirine Ambulans Tak Kuasa Menahannya, OAP Terus Berduka

Kalvin Magai
9.05.2023 | 8:41:00 AM WIB Last Updated 2024-02-06T00:05:37Z
iklan
Kalvin Dipa Magai, Judul Cerpen, "Sirine Ambulans Tak Kuasa Menahannya, OAP Terus Berduka"

"Tiada hari tanpa kabar duka, tak kuasa menahannya." [Kalivin M]
..............................................


Wiu...., wiu......, wiu..., wiu.....,
Sirine mobil jenaza terdengar, Ambulans...

Pagi, sore, maupun malam, bunyi itu selalu saja mengganggu pikiran. 

Tahun berganti tahun, dan terakhir ini, bunyi itu telah tak asing, dan sudah hal biasa di Papua.

Mobil Jenaza nampak ramai pulang dan pergi. Setiap hari menghantar mayat Orang Asli Papua (OAP) dari Rumah Sakit ke Rumah dan dari rumah ke tempat peristirahatan terakhir (kuburan). 

Telah menjadi buah bibir, seringkali menghelas nafas terakhirnya di rumah, dan paling banyak di Rumah Sakit. 

Selang beberapa tahun belakangan ini, yang meninggal kebanyakan adalah dari masyarakat pribumi atau OAP. Sementara, para migran terus bertambah, dan berbanding terbalik, kematian OAP sangat banyak, lebih khususnya masyarakat asal Topo dan sekitarnya.

Kematian OAP di seantero Papua melonjak tinggi dalam sejarah kehidupan. Kematian masyarakat pribumi jika dihitung, bukan deret hitung. Tetapi, deret ukur. Jika dibanding dengan kota besar di luar sana, itu, kematian warga pribumi tak bisa dihitung per tahun.

Saya pernah hidup di kota kembang, masyrakat pendatang di kota mereka memunyai harapan hidup yang cukup baik dan tinggi. Mereka hidup sampai tua, kematian setiap warganya hanya karena, kelalaian. Coba saja ke tempat wisata di sana apalagi pantaip, itu, dipenuhi dengan banyak manusia usia lanjut.

Berbeda dibanding Papua, apalagi tempat saya tinggal, di daerah Topo dan sekitarnya.

Pada dasarnya, manusia ingin hidup lama hingga pada usia yang benar-benar tua. Itulah harapan tiap insan manusia, seperti; kota-kota lainnya di semua negara.

Tetapi, berbeda di tempat saya tinggal, Topo, setiap hari harus ada kabar duka, kabarnya bisa dari tetangga, melalui via-media, dan yang lebih sering melalui Sirine Mobil Ambulans, wiu....,wiu.....,wiu....., suatu pertanda bahwa OAP sedang berduka lagi.

Masyarakat di sini, Kehidupan lebih lama menjadi tipis. Entalah karena apa?

Kata orang-orang yang dari luar Papua masuk, adalah karena, penyakit virus HIV/AIDS, makanan berminyak atau gorengan, minuman jus-jus kemasan atau teh jus, jasjus, ekstrajos susu, kukubima susu, Minuman Beralkohol, dan sebagainya.

Tetapi, bagi saya, oleh karena Blok Weilan yang terkandung Sumber Daya Alam (SDA) yang tinggi, oleh karena Cina masuk dan terjadi Ilegal Login, oleh karena Wisata Alam Hiu-Paus, dan oleh karena ada niat eksploitasi juga penguasaan tempat dimana tanahnya subur dan memberikan kehidupan pertanian yang melimpah. Itulah bagi saya, adalah penyebab kematian yang sesungguhnya.

Kematian lebih banyak pada usia produtif. Dan, pada usia produktif, negara yang disebut Indonesia ini tidak memakainya, sehingga kebanyakan semua usia produktif OAPdibuat beradu dalam kontestasi Politik Praktis, dan ini juga memusnahkan kemampuan generasi produktif.

Genosida yang dulunya hanya saya dengar, kini nyata terjadi di depan saya, dan itu terjadi terus-menerus.

Saya mau menggambarkan statistik populasi penduduk OAP dan para migran, setiap tahun kebanyakan OAP berduka dan kebanyakan Warga Migran berdatangan, apakah ini bukan sebuah isyarat ancaman bagi kita? Entahlah!

Di Kampung Argomulyo, empat tahun lalu, pada Tahun 2020. Gunung-gunung di tempat saya masih hutan. Ada dua lembah dalam gunung itu, luasnya kurang lebih dua hektar. Pepohonan sangat lebat, namun kini gundul.

Hutan itu berubah menjadi gundul sangat drastis. Sementara, kuasa maut menghantam warga pribumi, kuasa itu datang tanpa angin dan tanpa tanda, datang merebut anak-anak, pemuda, dan sanak saudaraku. Gigihnya maut menyambut tanpa ampun.

Selang empat tahun itu, gunung yang dibuat gundul itu berubah menjadi tenda kuburan yang bersebaran penuhi gunung itu. Semula hutan lebat, kini sudah berubah menjadi kuburan.

Ada seorang warga pendatang di Kampung Argomulyo pernah berkata, "cukup orang Dipa [Distrik Dipa] meninggal dan dikuburkan hanya batas gunung ini saja. Jangan! Melewati gunung selanjutnya, sembari bikin batasan area kuburan."

Ungkapan Ibu Orang Jawa ini, bentuk keprihatinan terhadap kematian Orang Dipa dalam tiap waktu. Hari ini, sampai kuburannya masuk memenuhi pekarangan rumah warga Kampung Argomulyo. 

Kuasa maut sudah datang, akan datang, derap langkah kaki dan gertakan giginya meraup setiap insan pribumi.

Maut....., maut......, maut....., kamu jahat! 

Terkadang ingin mengatakan maut itu dengan ungkapan emosi, "babi, anjing, gila..., coba berhadap-hadapan jika saya tidak membunuhmu lebih dulu..., hai maut. Ku banting, ku cincang organ tubuhmu menjadi 1001 bagian..., lalu ku ingin menghamburkan serpihan tubuh mu itu di setiap Sudut Bukit Gundul kuburan..., biar bagian-bagian tubuh yang menjadi 1001 itu ,penuhi lahan kuburan itu lebih dulu dan berhentilah kau mengambil setiap insan pribumi."

Seandainya, maut ku bunuh seperti inipun, rasa dendamku masih belum cukup terbalaskan.

Sampai kapan pun, dendamku dalam kalbu, dalam nadiku akan tetap hidup. Hai kau maut..., itulah dendamku padamu.

Siapa yang bersahabat denganmu, seorang pun tidak. Kau hanya amarah liar yang biadab. Sampai kapan pun kau hanya seorang diri tanpa jelas siapa dirimu.

Tetapi, sayang seribu sayang. Marahku hanya hampa belaka karena, maut itu adalah diciptakan, itulah hukumnya jika tidak maka hidup ini hingga sampai usia sangat tua.

Yang salah adalah manusia yang bersahabat dengan mau, siapa yang mendesainnya? Itulah letak kesalahannya.

Kadang ku bertanya kemana manusia pergi di bawa maut? Bagaimana melawanya?
Siapa dia (maut) itu, hingga tak seorang pun dapat melawanya?

Dengan hadirnya obat dan Rumah Sakit Pemerintah, bangga dan bertepuk dadah. Tetapi, sayang. Justru mengeluarkan Mobil Ambulans lagi bagi OAP.

"ada Obat, ada Rumah Sakit yang Akreditasi Purnama atau bintang lima tapi, apa daya?" Tanyaku sejenak.

Pimpinan Agama menjadi kaum moderat, mendoakan kehadiran kapitalis. Bahkan juga lembaga publik yang dibangun menjadi tempat suburnya persaingan bisnis. Sekian banyak dana dan Rumah Sakit hadir di bumi cendrawasih tapi, sayang! Maut berkuasa menghentikan insan pribumi. 

Apa gunanya megah gedung Rumah Sakit, bermegah tanpa aktivitas signifikan.

Apa gunanya produk obat yang banyak tapi, selalu tidak tepat sasaran.

Penguasa hanya berfikir, dapat apa, dan bagaimana pembagiannya? 
Sebab, yang diperlihatkan hanyalah mencari profit, aparat keamanan menjadi pebisnis, para pimpinan agama moderat ikut menjilati sampah mereka.

Tiga lembaga pelayanan yang saya banggakan, adalah Pelayan Medis, Guru, dan tempat ibadah. Namun, seiring waktu kekaguman saya terkikis hilang bersama kenyaataan itu. 

Aku hanya manusia yang tidak bermateri, yang sedang gelisah, entah kapan maut itu akan menghampiri hidup ku. Mereka sudah tiada, pergi mendahului dan kini tunggu kapan ajalku dijemput.

Oh Sang Khalik..., tolonglah aku.
Apalah daya, aku tak kuasa menahan serbuan maut kepada Masyarakat Pribumi.

Deruh dan gemahnya sudah terdengar dimana-mana, dengan diiringi oleh tangisan yatim piatu.

Selamat jalan ayahku, selamat jalan ibuku, selamat jalan kakaku, dan sanak saudaraku. 

Bila maut itu menghampiriku 
aku akan susul dalam lorong kegelapan 
Entah kemana tepianku...., ditempat gersang kah? Entah di belantara, gurun kah. Atau kah di singgah-sanah nan indah.


"Kosaaa!"

Argomulyo, 4 September 2023!


Penulis Cerpen ini adalah Wartawan di Media Tabloid Daerah.


Editor: Angsel H
Baca Juga
iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Sirine Ambulans Tak Kuasa Menahannya, OAP Terus Berduka

P O P U L E R

Trending Now

Iklan

iklan