Iklan

iklan

Telkom Indonesia Bukukan Pendapatan Rp146,7 Triliun di Tengah Akselerasi Transformasi

Tabloid Daerah
5.13.2026 | 4:44:00 PM WIB Last Updated 2026-05-24T07:50:46Z
iklan
Direktur Utama Telkom, Dian Siswarini, Selasa (12/5/2026).(Ist.)


[Tabloid Daerah], Nabire -- PT. Telkom Indonesia (Persero) Tbk mencatatkan laba bersih Rp17,8 triliun sepanjang 2025, sebuah capaian yang mempertegas keberhasilan transisi perusahaan menjadi strategic holding melalui agenda transformasi TLKM 30.

Langkah berani PT. Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) dalam merombak struktur bisnisnya mulai menunjukkan taji. Sepanjang tahun buku 2025, emiten telekomunikasi pelat merah ini berhasil meraup pendapatan konsolidasi sebesar Rp146,7 triliun.

Meski harus berhadapan dengan dinamika ekonomi makro yang menantang, Telkom tetap mampu mengantongi laba bersih (net income) sebesar Rp17,8 triliun dengan margin yang terjaga di angka 12,1%. Jika menilik laba bersih yang dinormalisasi, angkanya bahkan menyentuh Rp22,7 triliun.

Pencapaian ini bukan sekadar soal barisan angka di atas kertas.

Telkom tercatat memberikan Total Shareholder Return (TSR) yang sangat kompetitif sebesar 35,7%. Angka tersebut merupakan gabungan dari kenaikan harga saham (capital gain) sebesar 28,4% dan dividend yield sebesar 7,3%.

Pasar merespons positif konsistensi perusahaan dalam membagikan nilai kepada pemegang saham, termasuk kebijakan payout ratio sebesar 89% dan program buyback saham senilai Rp3 triliun yang masih bergulir.

Direktur Utama Telkom, Dian Siswarini, mengungkapkan bahwa fokus utama perseroan sejak 2025 adalah mengeksekusi empat pilar transformasi jangka menengah yang dirangkum dalam TLKM 30.

Pilar pertama adalah Operational and Service Excellence guna memperkuat tata kelola. Pilar kedua, Streamlining, dilakukan dengan melepas unit bisnis non-inti.

Salah satu langkah konkretnya adalah proses divestasi AdMedika dan TelkoMedika yang ditargetkan rampung pada paruh pertama 2026.

Tak berhenti di situ, Telkom juga tengah gencar melakukan 'Unlock Value' pada aset infrastruktur digitalnya.

Pemisahan bisnis Wholesale Fiber Connectivity ke dalam entitas InfraNexia menjadi bukti keseriusan perusahaan mengoptimalkan Return on Assets (ROA).

Perubahan besar juga terjadi pada modus operandi perusahaan, yang kini bergeser dari operating holding menjadi strategic holding. Dengan struktur ini, Telkom kini fokus pada empat segmen utama: B2C, B2B Infrastructure, B2B ICT, dan International.

Menariknya, Telkom juga melakukan 'reset' pada kebijakan akuntansi sesuai mandat Danantara Indonesia untuk meningkatkan transparansi.

Langkah ini memicu percepatan depresiasi aset yang sempat mengontraksi laba bersih sebesar 9,5% secara tahunan (YoY).

Namun, kebijakan ini dinilai krusial untuk menyehatkan postur keuangan jangka panjang.

Di sisi lain, Telkomsel sebagai motor utama di segmen B2C tetap tangguh dengan kontribusi pendapatan Rp109,2 triliun, didorong oleh lonjakan trafik data sebesar 15%.

Investasi masa depan pun tetap dijaga dengan realisasi belanja modal (Capex) sebesar Rp27,5 triliun.

Mayoritas dana tersebut dialirkan untuk memperkuat tulang punggung digital Indonesia, mulai dari kabel laut internasional, pusat data (data center) NeutraDC, hingga menara telekomunikasi Mitratel yang kini menjadi yang terbesar di Asia Tenggara.(*)



Penulis: Kebagibui Deto
Baca Juga
iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Telkom Indonesia Bukukan Pendapatan Rp146,7 Triliun di Tengah Akselerasi Transformasi
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan

Trending Now

iklan
iklan
iklan

Iklan

iklan