Iklan

iklan

Melawan Musisi Dadakan: Edmar Ukago Jaga Kesucian Lagu Rakyat Papua dari Cengkeraman AI

Tabloid Daerah
7.18.2026 | 7:04:00 PM WIB Last Updated 2026-07-18T11:05:06Z
iklan
Musisi senior Meepago, Edmar Ukago, dan Manajernya, Vinsen Giyai, Sabtu (18/7/2026), sore pukul 17.00 waktu Papua.(Ist.)


[Tabloid Daerah], Nabire -- Musisi senior Meepago, Edmar Ukago akan menempuh jalur hukum bagi pengguna teknologi kecerdasan buatan (AI) yang mencatut lagu rakyat Papua Tengah guna melindungi martabat karya seni tradisional Papua.

Gelombang teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang kian liar kini menabrak tembok tradisi di Tanah Papua.

Pada Sabtu (18/7/2026), sore pukul 17.00 waktu Papua, suara Edmar Ukago terdengar berat namun tegas melalui sambungan telepon.

Musisi senior sekaligus 'penjaga gawang seni Meepago' ini mengeluarkan peringatan keras, bahwa jangan sekali-kali menyentuh lagu rakyat dan karya rohani miliknya dengan algoritma AI jika tidak ingin berakhir di meja hijau.

Edmar tidak sedang menggertak, Baginya, setiap nada yang lahir dari rahim grup musik seperti Yimuna Group, Tarua Tune Group, Tune Mana Group, hingga Deiyai Tobe Group, adalah hasil perasan keringat dan pengorbanan.

Ada proses panjang yang melelahkan di sana, bukan sekadar perintah teks ke dalam mesin.

"Saya beritahukan kepada para penggemar aplikasi atau sistem Artificial Intelligence (AI), bahwa dilarang keras untuk mengcover lagu-lagu rakyat wilayah Meepago. Saya mewakili banyak seniman rakyat, mengecam keras tradisi zaman sekarang AI itu stop," tegas Edmar dengan nada bicara yang menohok.

Kegelisahan Edmar bukan tanpa alasan, Ia melihat fenomena 'musisi dadakan' yang dengan mudahnya mencuri identitas suara dan melodi orang lain demi konten instan.

Padahal, menciptakan satu lagu saja menuntut pengorbanan waktu, bolak-balik daya pikir, hingga mengesampingkan urusan penting lainnya.

Ia tidak sudi jika jerih payah yang menguras daya pikir itu 'dirampok' oleh mereka yang hanya modal 'klik'.

Langkah tegas ini didukung penuh oleh Vinsen Giyai, manajer yang mengawal Edmar Ukago.

Vinsen menggarisbawahi bahwa pihaknya tidak akan tinggal diam jika ada individu atau kelompok yang mencari keuntungan pribadi dari hasil karya mereka melalui program AI.

"Jangan ada orang individu ataupun kelompok manapun yang membuat musik milik orang lain ke dalam program AI untuk kepentingan pribadi sendiri," pinta Vinsen Giyai.

Pesan ini menjadi alarm bagi para seniman di era digital untuk lebih memahami kode etik, nilai seni, dan perilaku diri, di tengah gempuran teknologi.

Diharapkan, kejujuran dalam berkarya tetap menjadi 'emas-berlian' yang paling berharga di industri musik Papua, ketimpang mengcover tanpa izin, apalagi mengubah ke AI, merupakan suatu penghinaan atas nilai seni itu sendiri.(*)



Penulis: Kebagibui Deto
Baca Juga
iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Melawan Musisi Dadakan: Edmar Ukago Jaga Kesucian Lagu Rakyat Papua dari Cengkeraman AI
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan

Iklan

iklan