Iklan

iklan

Setahun Mgr. Bernardus Baru: Saat Kidung Pentakosta dan Kerukunan Bertaut di Fakfak

Tabloid Daerah
5.25.2026 | 7:00:00 AM WIB Last Updated 2026-05-25T11:26:11Z
iklan
Mgr. Bernardus Bofitwos Baru merayakan satu tahun masa kepemimpinannya sebagai Uskup Timika dalam suasana penuh haru yang menyatukan umat lintas iman di Kampung Sakartemen, Fakfak, bertepatan dengan Hari Raya Pentakosta, Minggu (24/5/2026).(Ist.)


[Tabloid Daerah], Nabire -- Mgr. Bernardus Bofitwos Baru merayakan satu tahun masa kepemimpinannya sebagai Uskup Timika dalam suasana penuh haru yang menyatukan umat lintas iman, bertepatan dengan Hari Raya Pentakosta, di Stasi Tritunggal Maha Kudus yang berlokasi di Kampung Sakartemen, Paroki Santa Maria Merapi, Kabupaten Fakfak, Provinsi Papua Barat, Minggu (24/5/2026).


Halaman Gereja Mandok Mahk di Kampung Sakartemen mendadak riuh

Aroma masakan dari dapur mama-mama menyatu dengan derap langkah para penari yang menyambut hari istimewa.

Di sana, di bawah langit Kabupaten Fakfak, perayaan Hari Raya Pentakosta tak sekadar menjadi ritual liturgi, melainkan panggung syukur bagi satu tahun perjalanan episkopal Mgr. Bernardus Bofitwos Baru sebagai Uskup Keuskupan Timika.

Langkah kaki sang Uskup memasuki wilayah Stasi Tritunggal Maha Kudus disambut antusiasme yang meluap.

Baginya, ini bukan sekadar kunjungan kerja.

"Saya sendiri hadir di sini untuk kedua kalinya. Pertama tahun 2012 saat gereja ini masih baru. Karena itu, saya melihat perayaan tahun ini sungguh istimewa. Ada roh yang menggerakkan kita semua. Hampir seluruh representasi umat hadir, mulai dari Merauke sampai Sorong," ujar Mgr. Bernardus dengan nada suara yang bergetar haru.

Keistimewaan hari itu kian kental saat barisan warga dari Kampung Pasir Putih dan Kampung Pirma turut membaur.

Mereka adalah saudara-saudara Muslim yang datang bukan sebagai tamu asing, melainkan sebagai bagian dari keluarga besar Tanah Papua.

Keterlibatan mereka dalam menyiapkan perayaan hingga menjaga kelancaran acara menjadi potret hidup toleransi yang telah mendarah daging di Fakfak.

"Ini tanda bahwa persaudaraan kita semakin kuat dan tersambung kembali," ungkap Uskup yang disambut tepuk tangan riuh dari umat yang hadir.

Menurutnya, kerukunan di Fakfak adalah warisan yang tak ternilai harganya dan wajib menjadi kiblat bagi daerah lain di Indonesia.

Di sela-sela syukuran, Mgr. Bernardus juga mengenang tunas-tunas panggilan imam yang mulai tumbuh subur di bumi Cenderawasih.

Ia menyebut nama-nama seperti Pastor Adrianus Tuturop, Pr dan Pastor Martin Hombahomba, Pr., sebagai bukti bahwa gereja di Papua terus beregenerasi.

Harapan besar ia sematkan pada pundak generasi muda Papua agar tak ragu mengabdikan diri, baik di altar gereja maupun di kursi pemerintahan.

Nuansa inklusivitas semakin terasa saat Uskup memperkenalkan Ibu Valen, seorang perempuan Amungme dari Institut Sekuler Ursulin.

Kehadirannya menjadi pengingat bahwa pelayanan gereja tidak melulu terkurung di balik tembok biara, tapi harus hadir dan bernapas di tengah hiruk-pikuk persoalan masyarakat sehari-hari.

Menutup perayaan dengan makan bersama tiga stasi, Mgr. Bernardus memberikan apresiasi khusus kepada Komunitas Kerahiman Ilahi Papua.

Menurutnya, di tengah tantangan zaman, kelompok ini terus konsisten mendoakan perdamaian di wilayah-wilayah konflik Papua.

"Gereja harus hidup, bukan hanya melalui liturgi, tetapi juga lewat kelompok kategorial. Semua harus bergerak bersama seperti satu tubuh," pungkasnya sebelum memberikan berkat penutup.(*)





Penulis: Ril
Editor: Kebagibui Deto
Baca Juga
iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Setahun Mgr. Bernardus Baru: Saat Kidung Pentakosta dan Kerukunan Bertaut di Fakfak
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan

Trending Now

iklan
iklan
iklan

Iklan

iklan