[Tabloid Daerah], Nabire -- Dinas Kesehatan Kabupaten Paniai, Papua Tengah, mengumumkan temuan empat kasus positif HIV/AIDS pada Wanita Pekerja Seks (WPS) yang beraktivitas di lokalisasi wilayah Penambangan Rakyat Baya Biru.
Pengumuman ini disampaikan oleh Kepala Bidang P2P Dinkes Paniai, Beny Degei, pada Jumat (16/1/2026), setelah tindak lanjut pemeriksaan intensif terhadap populasi khusus tersebut yang dilakukan pada Desember 2025.
Kepala Bidang P2P Dinas Kesehatan Kabupaten Paniai, Beny Degei, menjelaskan pemeriksaan ini merupakan tindak lanjut dari kegiatan skrining kesehatan yang dilakukan secara intensif selama dua hari, yakni 8–9 Desember 2025, yang dipusatkan di Puskesman Baya Biru dan area lokalisasi.
Dari 80 WPS, Empat Dinyatakan Positif
Dari total 80 WPS yang tersebar di sembilan tempat karaoke di Baya Biru, skrining awal menemukan tujuh orang dengan hasil positif HIV/AIDS.
Setelah melalui pemeriksaan kedua di laboratorium, empat orang dinyatakan terkonfirmasi positif HIV/AIDS. Sementara itu, tiga orang WPS lainnya masih harus menjalani pemeriksaan ulang pada Maret 2026 mendatang.
Empat orang WPS yang telah dinyatakan positif tersebut saat ini sudah mendapatkan pengobatan Antiretroviral (ARV). Mereka menjalani perawatan di Puskesmas Wonorejo, Kabupaten Nabire, sesuai permintaan pasien.
“Kami telah menjalin kerja sama dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Nabire untuk penanganan pasien kami,” jelas Beny Degei di kantornya, Jalan Poros Enaro-Madi, Paniai Timur.
Risiko Tinggi Penularan di Kawasan Penambangan
Beny Degei mengaku sangat khawatir dengan kondisi tersebut, mengingat potensi penularan di wilayah Baya Biru dinilai sangat tinggi.
Ia menyoroti praktik prostitusi yang telah berlangsung puluhan tahun dan mobilitas penduduk yang tinggi di kawasan penambangan emas.
“Dari hasil wawancara kami dengan para pekerja seks, mereka mengaku tidak selalu menggunakan kondom karena, alasan bayaran, tempat tinggal, dan faktor lainnya,” ungkap Beny.
Kekhawatiran utama adalah potensi penyebaran ke masyarakat luas.
Beny memperingatkan bahwa setelah dari lokasi penambangan, para pekerja seks pulang ke daerah masing-masing dan berhubungan dengan pasangan atau istri sah mereka, yang berpotensi memperluas penyebaran HIV/AIDS.
Kondisi ini diperkuat oleh kesaksian salah satu warga setempat, Selpianus Makipa.
Ia menyebutkan, “Sejak penambangan emas dibuka, masyarakat asli Baya Biru banyak yang meninggal. Kami menduga kuat akibat penyakit AIDS,” ujarnya dengan nada sedih.
Kolaborasi Penanganan dan Imbauan Kesehatan
Menanggapi situasi ini, Dinkes Kabupaten Paniai akan berkolaborasi dengan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Paniai, pemerintah distrik, kepala kampung, dan tokoh masyarakat untuk menekan laju penyebaran.
Dinkes berkomitmen melakukan sosialisasi pencegahan HIV/AIDS, pemeriksaan darah secara berkala, dan memastikan pasien positif mendapatkan pengobatan ARV di fasilitas kesehatan seperti RSUD Paniai dan Puskesmas Enarotali.
Beny Degei juga mengimbau masyarakat untuk menghindari pengobatan non-resmi. “Konsumsi obat herbal yang tidak teruji bisa berbahaya bagi kesehatan, berpotensi merusak ginjal, pankreas, dan organ tubuh lainnya. Pengobatan HIV/AIDS harus melalui layanan kesehatan resmi,” tegasnya.
Upaya penguatan layanan kesehatan ini merupakan bagian dari komitmen Dinas Kesehatan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Paniai secara merata dan berkualitas.(*)
Penulis: Kebagibui Deto

