![]() |
| Kegiatan yang menggunakan sumber dana Otonomi Khusus (Otsus) ini dilaksanakan pada Kamis (15/1/2026), pagi di Aula Koteka Moge, Moanemani, Kabupaten Dogiyai, Provinsi Papua Tengah. (#Istimewa) |
[Tabloid Daerah], Dogiyai -- Pemerintah Kabupaten Dogiyai melalui Dinas Ketahanan Pangan (Ketapang) menggelar pelatihan dan kursus singkat mengenai Penyediaan Infrastruktur Cadangan Pangan Pemerintah Kabupaten/Kota.
Kegiatan yang menggunakan sumber dana Otonomi Khusus (Otsus) ini dilaksanakan pada Kamis (15/1/2026), pagi di Aula Koteka Moge, Moanemani, Kabupaten Dogiyai, Provinsi Papua Tengah, dengan tujuan utama untuk memperkuat kedaulatan pangan dan menanamkan kembali etos kerja keras di kalangan masyarakat.
Pantauan wartawan, Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setda Dogiyai, Natalis Agapa, yang mewakili Bupati, secara resmi membuka kegiatan tersebut.
Dalam sambutannya, Natalis Agapa menekankan bahwa masyarakat saat ini berada dalam era meritokrasi, di mana hasil hanya akan dinikmati oleh mereka yang bekerja dan berusaha, bukan yang bermalas-malasan.
Ia mengajak seluruh peserta pelatihan untuk meneladani kehidupan orang tua terdahulu yang secara mandiri membangun perekonomian keluarga melalui berkebun dan beternak.
Pasalnya, sikap kemandirian ini sangat penting untuk mengurangi ketergantungan pada pasokan luar.
“Orang tua kita dulu itu hidup mandiri. Di pekarangan rumah mereka tanam tanaman pangan dan memelihara ternak seperti babi, ayam, kelinci, bahkan sapi. Hasilnya untuk konsumsi keluarga dan juga dijual untuk memenuhi kebutuhan hidup. Sekarang justru terbalik, kita mau makan tapi beli dari luar, seperti ayam potong dan lainnya, padahal itu semua bisa kita kembangkan sendiri,” ujar Natalis.
Natalis juga berharap setiap keluarga di Dogiyai setidaknya memelihara ternak seperti babi, ayam, kelinci, atau bebek, sehingga pada momen-momen tertentu seperti Natal, masyarakat tidak lagi bergantung pada ternak yang didatangkan dari luar daerah, melainkan dari hasil ternak sendiri.
Ia menambahkan bahwa masyarakat yang berhasil mengembangkan ternaknya akan menjadi prioritas untuk mendapatkan bantuan lanjutan.
Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Dogiyai, Silvester Dumupa, menjelaskan bahwa inovasi merupakan kunci menjawab tantangan ketahanan pangan.
Menurutnya, fondasi hidup masyarakat Mee bertumpu pada tiga hal utama, yakni rumah, makanan-minuman, dan kayu bakar, yang mana ketiga aspek ini harus diperkuat dengan asupan gizi seimbang.
Oleh karena itu tambahnya, pelatihan ini mendatangkan dua pemateri praktisi yakni, Petrus Dogomo dan Benior Pakage.
Ia menjelaskan kedua pemateri ini berfokus pada budidaya ternak unggas buras, ayam kampung, kelinci, dan bebek.
Ia berharap peserta mendapatkan materi teknis mulai dari cara pemeliharaan sejak kecil, pengelolaan pakan, perawatan kandang, hingga teknik perkawinan ternak.
Dalam proses penyampaian materi, Dinas Ketapang memilih menggunakan pendekatan bahasa lokal. “Materi disampaikan menggunakan bahasa daerah Mee karena, sebagian besar peserta tidak fasih berbahasa Indonesia. Mereka adalah petani dan peternak, sehingga pendekatan ini memudahkan pemahaman dan penerapan di lapangan,” jelas Silvester.
Silvester berharap peserta dapat mengikuti pelatihan ini dengan serius dan segera menerapkannya di rumah masing-masing, sebab tujuan akhirnya adalah meningkatkan kemandirian pangan dan kesejahteraan keluarga di Kabupaten Dogiyai.
“Akan menjadi sia-sia jika sudah mengikuti pelatihan tetapi, tidak dikembangkan,” tutupnya.(*)
Penulis: Ril
Editor: Kebagibui Deto
Editor: Kebagibui Deto

