Iklan

iklan

Lucky Ireeuw: AI Hanya Alat Bantu, Jangan Sampai Jurnalis Kehilangan Nilai Kebenaran Demi Algoritma

Tabloid Daerah
1.14.2026 | 12:29:00 PM WIB Last Updated 2026-01-14T07:36:17Z
iklan
Pemimpin Redaksi Cendrawasih Post, Lucky Ireeuw dimoderatori oleh wartawan Seputar Papua, Misba, pada Rabu (14/1/2026) siang, di halaman Kantor Gubernur Papua Tengah, Jalan Sisingamangaraja, Kota Nabire, membawa materi saat workshop dalam Festival Media Se-Tanah Papua./Istimewa

‎[Tabloid Daerah], Nabire -- Di tengah maraknya adopsi teknologi kecerdasan buatan (AI) di ruang redaksi, sebuah peringatan tegas dilayangkan mengenai pentingnya menjaga etika jurnalistik.

Pemimpin Redaksi Cendrawasih Post, Lucky Ireeuw, pada Rabu (14/1/2026) siang di halaman Kantor Gubernur Papua Tengah, Jalan Sisingamangaraja, Kota Nabire, menegaskan bahwa AI seharusnya berfungsi sebagai alat bantu efisiensi, bukan sebagai penentu kebijakan redaksi, terutama terkait potensi bias dalam mengejar algoritma "For You Page" (FYP) yang mengancam kebenaran informasi.

Peringatan tersebut disampaikan Ireeuw saat menjadi narasumber dalam sesi pelatihan bertajuk, "Manusia Tetap Dikemudi: Etika Penggunaan AI dalam Jurnalisme".

Sesi yang dimoderatori oleh wartawan Seputar Papua, Misba, ini merupakan bagian dari rangkaian Festival Media Se-Tanah Papua yang menghadirkan 149 jurnalis dari enam provinsi, serta pelajar dan mahasiswa sebagai peserta.

Ireeuw menjelaskan bahwa perkembangan AI kini telah digunakan oleh banyak media dalam proses mencari informasi, mengolah, dan mempublikasikan konten. Namun, Ia memperingatkan bahwa penggunaan alat ini harus selalu disertai dengan etika yang jelas.

Ia mengingatkan bahaya serius jika media hanya fokus mengejar algoritma tanpa memperhatikan kebenaran informasi, yang berpotensi menyebabkan informasi bias yang diterima mentah-mentah oleh publik.

"Jangan sampai terjadi bias mengejar algoritma, tetapi justru informasi bias. Publik akan menerima informasi itu mentah-mentah. Misalnya, sesuatu yang mungkin tidak benar, tetapi karena mengikuti algoritma, dia FYP, sehingga itu saja yang diolah media. Media tinggal putar informasi itu terus. Nah, itu yang berbahaya," pintanya.

Ireeuw menegaskan kembali prinsip fundamental bahwa AI harus membantu mempercepat dan memperlancar pekerjaan jurnalistik agar lebih efisien.

Ia menekankan bahwa semua data yang diperoleh dari AI wajib diverifikasi dan diolah kembali secara manual oleh jurnalis lagi.

"Penting dan terutama bagi kita semua, terutama para jurnalis, bahwa AI itu hanya sekadar bantu, dia bukan penentu kebijakan. Jadi kita menggunakan AI itu harus ada etikanya juga," jelas Ireeuw usai memaparkan materi.

Ia mengajak para pekerja media untuk tidak bergantung sepenuhnya pada teknologi hingga melupakan nilai-nilai fundamental jurnalisme.

"Saya coba uraikan supaya kita yang menggunakan, pekerja media, jangan sampai tergantung pada AI. Kita yang punya nilai-nilai kebenaran, nilai-nilai jurnalistik, nilai-nilai terhadap masyarakat, itu jangan sampai menjadi hilang karena teknologi," ajak Lucky.

Ia menutup dengan menegaskan, jurnalis boleh memakai AI, tapi hanya sebagai alat bantu bukan sebagai penentu kebijakan redaksi.(*)



Penulis: Ril
Editor: Kebagibui Deto
Baca Juga
iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Lucky Ireeuw: AI Hanya Alat Bantu, Jangan Sampai Jurnalis Kehilangan Nilai Kebenaran Demi Algoritma
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan

Trending Now

iklan
iklan
iklan

Iklan

iklan