Iklan

iklan

Awalnya Dipicu Oleh Brimob, Aktivis HAM Papua: Adili Pelaku dan Selesaikan Secara Hukum Tiga Warga Sipil yang Ditembak Mati

Elias Douw
7.16.2023 | 5:11:00 PM WIB Last Updated 2023-07-16T08:41:57Z
iklan
Aktivis HAM Papua, Yones Douw, saat dalam sebuah acara di suatu tempat/Dok.YonesDouw

TaDahnews.com, Nabire --
Kasus Dogiyai, seperti yang telah diberitakan sebelumnya! Ini, bermula dari seorang (pemuda) warga sipil, Yosua Keiya (20 Tahun) tidak bersalah dan sedang duduk di pinggir jalan Poros Nabire-Paniai, Madopotumita, Desa Obayo Ugapuga, Distrik Idakebo, Dogiyai, Papua Tengah, itu ditembak mati oleh Satuan Brigadir Mobil (Brimob) yang bertugas di Kabupaten Dogiyai, saat menggunakan dua mobil dan melintas dari arah Idakebo menuju Dogiyai, pada hari Kamis 13 Juli 2023, kemarin.
 
Pada saat ditemui tadahnews.com, Yones Douw, Aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) Papua membenarkan bahwa tindakan Satuan Brimob Kepolisian Indonesia ini justru memicu keadaan, yang berakibat pada korban lainnya termasuk pembakaran. Pasalnya, jika saja tidak ada penembakan itu, maka situasi Kabupaten Dogiyai aman-aman saja.

Aktivis HAM Papua ini, membeberkan kronologis sebelum Yosua Keiya ditembak mati, dan saat korban tersungkur tepat di pinggir jalan.
 
"Awalnya itu ada dua  pemuda yang duduk di pinggir jalan Obayo, Distrik Kamuu Utara, Idakebo. Mereka berdua tidak mengetahui kejadian yang terjadi di tempat lain. Mereka berdua duduk-duduk di pinggiran jalan, lalu tiba-tiba Mobil Jenis Hilux berwarna Coklat itu muncul, dan salah satu temannya melihat kemudian berlari. Sementara, Yosua Keiya, dia melihatnya tapi, dia tidak berlari mengikuti temannya tadi. Karena, dia tidak memunyai kesalahan apapun. Sehingga, dia berdiri tetap di situ. Satuan Brimob lurus ke dia, dan dari situ langsung mereka menembak Yosua Keiya tanpa bertanya atau kata peringatan satu pun oleh Satuan Brimob kepada Yosua," hal ini disampaikan Yones Douw, Aktivis HAM Papua, kepada media ini saat di temui, di Nabire, Papua Tengah, Sabtu (15/7/2023), Sore Waktu Papua (WP).

Lanjut Douw, setelah kejadian itu terjadi, masyarakat tidak menerima tindakan aparat kepolisian itu. Kemudian, beberapa aksi spontas karena, tidak terima oleh masyarakat atas kejadian itu. Masyarakat melakukan pembalasan pembacokan terhadap masyarakat sipil non Papua, dan juga pada malam hari Pukul 18:45 WP, itu masyarakat membakar beberapa kios dan toko milik masyarakat non Papua. Hal itu sebagai pelampiasan emosi mereka, dan protes masyarakat Dogiyai terhadap tindakan aparat keamanan yang sebagai pelaku penembakan itu.

Dirinya menegaskan, jadi aparat keamanan kepolisian mengatakan kami diserang dan kami dipalang warga masyarakat Dogiyai merupakan penipuan besar terhadap publik, baik itu nasional maupun internasional. Karena, fakta lapangan mengatakan bahwa, aparat keamanan Satuan Brimob yang menembak, lalu masyarakat Dogiyai tidak menerima itu. Sehingga, masyarakat melakukan pembalasan pembakaran kios, dan toko.

"Pembakaran hari pertama, itu juga pembakaran beberapa rumah, sekitar 40 rumah ditambah dengan malam Jumat, (14/7) di Ekimanida dan beberapa rumah lainnya. Hal itu yang terjadi akibat dipicu oleh penembakan tadi. Sikap mereka, masyarakat asli Papua di Dogiyai adalah spontas karena, tidak menerima keadan itu. Ini semua karena, tindakan aparat kepolisian yang salah dari awal," kata Douw.
 
Aktivis HAM Papua menilai seakan ada sebuah upaya untuk mendatangkan Pembangunan Kodim dan Polres, sebab jika dilihat dari letak kronologisnya warga sipil yang ditembak mati ini tidak bersalah, tidak tahu apapun. Tetapi, justru menjadi sasaran penembakan.
 
"Kalau tindakan aparat kepolisian bahkan juga pihak TNI mau mendatangkan Kodim, datangkan saja. Jangan mengorbankan rakyat sipil. Kalau mereka datangkan Kodim, seperti yang Polres, mereka berulang-ulang beberapa kali lalu mencoba. Boleh saja tetapi, jangan salahkan masyarakat asli Papua. Sekarang mau datangkan Kodim, warga masyarakat yang menjadi sasaran tembak mati lagi," tegas Douw.

Jadi, Douw menegaskan kepada Kapolres, Kapolda, Presiden Republik Indonesia, dan Wapres, yang datang kunjungan di Papua, adalah datang untuk menumpahkan darah kami Orang Asli Papua (OAP). Untuk itu, Kepolisian dalam hal ini Satuan Brimob, dan TNI yang datang melakukan kekerasan terhadap masyarakat sipil (OAP) harus adili pelaku, proses hukum, dan tindak tegas.

Pasalnya, Jika pemerintah Indonesia menganggap kami OAP betul bagian dari Indonesia dan OAP mencintai NKRI maka, pelaku penembakan terhadap pemuda di Dogiyai harus di adili. Bukan saja itu, kasus di Bomomani Dogiyai juga pelakunya harus di ungkap, dan kasus-kasus yang ada di Tanah Papua, ini, pelakunya harus di adili, terutama pelaku penembakan terhadap Yosua Keiya (20 Tahun), Yakobus Pekei (20 Tahun), dan Stepanus Pigome (19 Tahun).

Douw menambahkan bahwa malam Pukul 20:00 WP, Kamis (13/7), aparat keamanan dari jarak jauh (mungkin memakai jenis sniper) menembak mati terhadap Yakobus Pekei (20 Tahun) itu tejadi di Moanemani, Ibu Kota Dogiyai. Beberapa jam kemudian, satu pemuda lagi, Stepanus Pigome (19 Tahun) ditembak mati. Dan, dua pemuda lainnya luka-luka berat.

Masih dalam penjelasan, Douw berkesan bahwa kami Orang Asli Papua itu sudah menjadi keharusan untuk dikorbankan, entah itu mau datangi kodim atau tidak, tetap saja masyarakat korban. Saat ini belum ada Kodim di Dogiyai saja sudah ada beberapa yang korban, apalagi nantinya dibangun Kodim. Dan, mau bikin kantor, manusia Papua korban, mau mekarkan (DOB) masyarakat jadi korban, mau hadirkan Polres masyarakat ditembak, mau bikin jalan masyarakat Papua ditembak. Kami orang Papua binatang ka? Tidak! Kami juga manusia yang diciptakan oleh Tuhan.

Tutup Douw, untuk itu, kasus Dogiyai adalah bukan diciptakan oleh masyarakat asli Papua, bahkan ada tiga pemuda yang ditembak mati tempat. Itu juga, mereka tidak pernah mengonsumsi minuman beralkohol (minol) dan tidak pernah palang jalan. Tetapi, aparat keamanan melakukan penembakan terhadap tiga pemuda tersebut, sebenarnya jika mereka salah harus menangkap dan mengadili. Dan, menegakkan hukum. Itulah tugas aparat kepolisian, tugas kepolisian bukan menembak mati.

"Untuk itu, saya meminta Kapolda Papua harus mengadili pelaku supaya kita tegakan kebenaran di atas tanah ini. Meskipun, kami tahu bahwa NKRI tidak pernah adil terhadap kami bangsa Papua. Namun, saya percaya bahwa Kapolres dan Kapolda akan mengambil tindakan tegas, mengadili pelaku penembakan," tutup Aktivis HAM di Papua, tegas. (#EDo/tadahnews.com)




Editor: Melky Dogopia
Baca Juga
iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Awalnya Dipicu Oleh Brimob, Aktivis HAM Papua: Adili Pelaku dan Selesaikan Secara Hukum Tiga Warga Sipil yang Ditembak Mati

P O P U L E R

Trending Now

Iklan

iklan