Iklan

iklan

REAKTUALISASI NILAI-NILAI PAPUA ASLI

Tabloid Daerah
2.11.2022 | 3:56:00 PM WIB Last Updated 2022-02-11T06:56:02Z
iklan
Foto: Ismail Asso

Oleh: Ismail Asso*

Perumusan Konsep

Sikap menunggu Tuhan datang merubah adalah suatu sikap lemah sangat dikritik habis oleh Friedrich Nietzsche sebagai "Bermentalitas Budak/Memelas dihadapan Tuan.

Konsep baru Papua Zona Damai adalah mentalitas kalah dan memelas sesungguhnya bukan budaya Papua.

Mentalilatas membudak tidak ditemukan dalam adat/tradisi kebudayaan orang manapun Pulau, Pesisir atau pegunungan Papua berbudaya "Papua Zona Damai" asing dipahami. 

Sengaja diberi tanda petik untuk membedakan sebagai damai dalam pengertian dan yang hidup dalam budaya Papua berbeda dari apa yang ditawarkan minoritas terdidik orang Papua atas the silent majority, menuju Papua Bangkit.

Tapi jika kenyataannya ini yang menang dan disuguhi dihadapan mayoritas budaya dan adat Papua maka manusia serta kekayaan alam Papua diarahkan oleh mereka sebagai sasaran perburuan. 

Karena "Zona Damai" sebagai, hanya gagasan membawa Papua dan wilayah Papua ke kawasan perburuan, (killing ground).

Maka dengan sendirinya gagasan non budaya "Papua Zona damai" adalah jalan menuju perusakan (destroyer).

Karena itu sama artinya mereka mau membiarkan para killers, pemburu, yang berwatak melenyapkan (un-nihilisme) merajalela menenggelamkan Papua. 

Dampaknya bukan saja Adat dan Budaya Papua tetapi juga etnis serta kekayaan alam akan punah dari peradaban umat manusia dimuka bumi sebagai karya Tuhan Maha Unik.

Sungguh tidak ditemukan budaya Papua bermentalitas membudak, sehingga yang dikedepankan adalah “Papua Damai”, HAM, demokrasi, penegakan hukum. 

Karena semua itu adalah konsep Barat yang sudah telah bebas. Karena itu bagi mereka yang paling penting adalah damai, sejahtera dalam negara berdaulat. 

Hal demikian untuk situasi Papua saat ini tidak relevant apalagi dalam adat dan budaya Papua yang asli tidak cocok. 

Tap kalau dipaksakan konsep asing hasilnya selalu tetap gagal dan kita saat ini menyaksikan dampaknya rakyat ter-alienation, dislocation, devrivation.

Di dunia bangsa manapun sama sekali tidak ada yang pernah bebas atau menuju kebebasan hakiki dengan cara damai, dalam pengertian kedaulatan dari unsur penindasan seperti apa yang kita hadapi di Papua Barat saat ini. 

Aktifitas seperti Munir, Adnan Buyung Nasution, tidak bisa disamakan dengan keadaan Papua.

Penegak demokrasi tulen Gus-Dur dari Ciganjur yang dibanggakan kaum minioritas dinegerinya adalah cocok bagi Indonesia, sebab Indonesia sudah merdeka. 

Mereka hanya butuh jalan memperjuangkan, jadi hanya memperjuangkan penegakan demokrasi dalam negara yang sudah merdeka yang bernama NKRI.

Tapi jika Papua pantaskah semua orang beraktivitas mendirikan LSM seperti mereka yang disebut diatas? 

Papua mau dijadikan sebagai daerah Zona damai, padahal tujuannya mau merdeka karena belum berdaulat oleh pengakuan dunia internasional? 

Pantaskah kita sibuk dengan rutinitas orang lain hanya menegakkan demokrasi, HAM, penegakan hukum di tanah yang sesungguhnya tidak damai? 

Kecuali hanya kekalahan dan kekerdilan jiwa para pemimpin Papua atau hanya tujuan mendapatkan kekuasaan diri sendiri?

Papua punya HAM, demokrasi, dan penegakan hukum tapi bukan cara asing yang dicoba ditampilkan dan yang sedang dipraktekkan serta dipertontonkan oleh sementara pihak selama ini.

Semua yang tampilkan konsep asing, bukan cara dan budaya yang berarti kepribadian orang Papua, yang selalu percaya pada diri dan kemampuannya sendiri.

Jika orang Papua tidak lagi percaya pada diri dan kemampuannya sendiri maka ini adalah alamat kematian sesungguhnya. 

Mereka telah berhasil membunuh budaya dan karakter/mentalitas orang Papua yang sesungguhnya tangguh! 

Budaya Papua tidak memelas dan menyerah begitu saja dengan Papua damai. Apa itu damai? Konsep asing tak dikenal!

Jika para pemimpin bermentalitas begini, tanda kehancuran Papua, jika dibiarkan terus begitu, tanpa mau dikreatifitasi dengan tantangan konteks kekinian yang harus segera direspon secara cepat. 

Jika mempertahankan "Papua Damai", dan terus berkutat disitu, hasilnya, Damai sejahtekah Tanah Papua? 

Jika demikian; maka mengikuti Niecthe, Tidak ada Tuhan yang sesungguhnya di Papua, selain Tuan-Tuan Papua sendiri!

Kecuali Tuhan hanya suatu perasaan orang-orang kalah dari kompetisi kehidupan duniawi, sehingga agama hanya sebuah tempat pelarian bagi orang-orang kalah. 

Sebagai hiburan semata-mata bagi perasaan yang memang kalah maka dikatakan oleh Karl Max Agama adalah Candu yang sangat berbahaya jika kita melihat segala sesuatu selalu dari sudut Agama.

Pembebasan Adalah Rasionalisasi

Dalam suatu upacara kematian ada tradisi dikalangan suku Dani (orang Wamena), dengan kebiasaan memotong jari atau telingga, hakekatnya tidak baik karena menghilangkan sesuatu yang alami dari diri/tubuh, tapi nilai yang diajarkannya adalah bahwa:

Bagi mereka tidak ada akhirat, karena itu tidak ada hari kebangkitan sesudah kematian. Manusia mati selesai (sangat rasional bukan?).

Karena itu maksud dari tradisi negatif, memberi makna dalam budaya memotong telingga, jari-jari tatkala sanak saudara meninggal menandakan bahwa tidak ada pertemuan kembali sesudah kematian sebagaimana ajaran semitisme. 

‘Bawalah pergi sebagai kenangan sebahagian dari anggota tubuh ini’, dari kerabat yang hidup dalam perpisahan yang abadi ini.

Karena itu rasanya lucu sekali kalau mengharap Tuhan datang merubah nasib bangsa Papua. 

Bukankah orang Papua dalam tradisinya tidak pernah sekolah tapi sudah mencapai tahapan berfikir aukflaruung, englaitment? 

Sedang kita masih saja selalu irrasional mengharap sesuatu yang tidak betul pasti? 

Utopia, berawal dari sini, kalau mentalitas para penggiat Papua Bangkit selalu, kalau yang ada begini, semua adanya mentalitas pasrah. Bagaimana jadinya Papua nanti?

Film yang berjudul "the single not the song", (penyanyinya bukan nyanyiannya) yang menggambarkan seorang bandit besar mengikuti keberanian seorang Pendeta, bukan kebenaran ajaran yang dibawakannya. (Gus-Dur; Membangun Demokrasi,1998).

Kesimpulan bahwa mengedepankan budaya Damai adalah mentalitas budak, menurut Frederich Nietche, karena itu hanya utopia belaka harap Tuhan Merubah Nasib Papua, demikian kecaman Karl max yang komunis. 

Padahal adat dan Budaya Papua sangat rasional kalau kita mau kembali kebudaya sendiri belajar dari mereka. 

Tapi kita selalu arogan, karena itu kita tidak mau belajar dari sekitar kita sendiri, akibatnya dependent mentalitas kita, bukan Tuan tapi Budak terjajah oleh pikiran kita sendiri.

*** ****
Penulis adalah Ketua Forum Komunikasi Muslim Pegunungan Tengah (FKMPT) Papua.
Baca Juga
iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • REAKTUALISASI NILAI-NILAI PAPUA ASLI

P O P U L E R

Trending Now

Iklan

iklan