Iklan

iklan

Quo Vadis Mubes RD. Nato Gobai: Sebuah Catatan Kritis Bagi Para Elit ‘Difabel’ di Meepago dan Papua

Tabloid Daerah
12.07.2021 | 1:03:00 AM WIB Last Updated 2021-12-17T17:43:28Z
iklan

Foto: alm. Pastor N. Henepetia Gobai/nn

Oleh: Siorus Degei*

 

Lepas dari semua diktat perjuangan pemerintah provinsi Papua dalam memerangi HIV/AIDS. Perluh diketahui bahwa bila pemerintah Meepago konsisten tanpa nego-nego menyukseskan visi-misi Musyawarah Besar Papua (MUBESPA) yang dipelopori oleh Pastor Natalis Henepitia Gobai, Pr (alm). Maka, bukan barang mustahil sekali HIV/AIDS itu sudah lama tereleminasi dari pulau Papua, (https://www.papua.go.id/view-detail-berita-5630/kasus-hiv-dan-aids-tertinggi-di-nabire, Sabtu, 23-10-2021. Pukul. 18:42 WIT). Namun, Sayang hingga kini mulai dari diwacanakannya tidak ada follow Up dan Call Back dari para elit Meepago dan Papua yang saat itu hadir sebagai peserta dan sponsor. Padahal mereka masih eksis, sehat, kuat dan aktif berkarier, namun difabelnya mereka bungkam bersuara.

 

Pater Nato Gobai dan MUBESPA

 

Melihat situasi carut-marut yang terjadi di Papua pada umumnya, dan Kabupaten Nabire lebih khususnya. Terlebih mengenai isu HIV/AIDS, Miras, dan Lokalisasi, maka tidak sedikit para pejuang kehidupan di tanah Papua yang berbicara. Salah satu tokoh yang mengangkat dan berbicara soal itu dan punya passion serta komitmen kuat untuk memberantasnya hingga ke akar-akarnya ialah Pastor Natalis Henepitia Gobay, Pr, seorang imam diosesan dan Vikaris Jenderal keuskupan Timika,  Pada tanggal 17-24 November 2014 tepat di Paroki Kristus Raja Nabire beliau menyelenggarkan Musyawara Besar atau MUBES lintas 5 kabupaten Meepago, yakni Nabire, Dogiyai, Deiyai, Paniai, dan Intan Jaya, (http://www.nabire.net/musyawarah-besar-pencegahan-hivaids-pemberantasan-minuman-keras-wilayah-adat-mee-pago-di-nabire-resmi-ditutup, Sabtu, 23-10-2021. Pukul. 18:45 WIT).

 

Banyak hal penting dan sensitif yang dibahas dan dicari solusinya dalam Mubes tersebut, (Muyapa, 2017: 36). Beberapa diantaranya perihal berkecamuknya penyakit HIV/AIDS di wilaya Meepago, khususnya Nabire yang menjadi urutan I wilayah dengan pengidap HIV/AIDS tertinggi di Provinsi Papua, juga Miras dan lokalisasi yang marak di kota Nabire, dua aspek ini menjadi indikator utama pesatnya  penyebaran dan penularan HIV/AIDS di Meepago, selain pelanggaran HAM. Laki-laki asli Papua di Nabire, jika mabuk dan teller pikirannya lari ke foreplay di lokalisasi atau hubungan seks bebas, apalagi para elitnya (Memang tidak semua, namun kebanyakan demikan secara realistis), celakanya lawan jenis yang menjadi teman hubungan seks itu ialah pengidap HIV/AIDS (Banyak PSK yang mengidap HIV/AIDS di beberapa lokalisasi di Nabire), (https://suarapapua.com/2012/04/19/ini-empat-rekomendasi-mubes-masyarakat-adat-di-wilayah-mee-pago, Sabtu, 23-10-2021. Pukul. 18:49 WIT). Inilah metamorphosis atau proses pertumbuhan dan perkembangan HIV/AIDS di Meepago. Sehingga, para pionir atau pengagas Mubes menimbang dan sepakat bahwa Miras dan Lokalisasi sebagai sumber penyebaran HIV/AIDS mesti diberantas habis, Pater Nato dan kawan-kawan berargumen bahwa jika sumbernya ditutup, maka pasti penyebaran itu berhenti. Maka, komitmen yang diambil dan disahkan bersama adalah penutupan massal toko-toko atau kios-kios yang menjual Miras serta penutupan semua jenis lokalisasi yang ada di Nabire mulai dari Timur-Barat, Selatan-Utara. Komitmen ini disepakati oleh semua peserta dan sponsor Mubespa dan tinggal tunggu tanggal main. 

 

Selain penutupan dua sumber penyebaran HIV/AIDS, melalui Kapolda Papua dan Pagdam diberlakukan Sweeping ketat pada jalur pelayaran di pelabuhan dan penerbangan di bandara, serta di kilo 100 jalan trans Nabire. Semua skema pemusnahan sumber pemusnah orang asli Papua (Selanjutnya baca OAP) dalam akihi-akhir Mubespa sudah dirancang dengan begitu cakap oleh Pater Nato dan kawan-kawan. Pater Nato berhasil merangkul pemimpin dan rakyat Papua di wilayah Meepago untuk memberantas habis semua jenis kejahatan kemanusiaan yang memusnahkan orang Melanesia di wilayah Meepago.

 

Bahkan beliau sempat bilang bahwa dialah yang akan menjadi koordinator lapangan penutupan toko-toko miras dan lokalisasi, saya yang akan turun deluan jika pemerintah dan rakyat takut untuk membongkar sarang-sarang setan itu. Namun, amat sangat disayangkan perjuangan Pater Nato hanya berakhir dengan wacana bukan melalui aksi yang direncanakannya. Beliau terlebih dahuluh menghadap Allah Bapa di Surga sebelum menuntaskan karya pelayanannya di bumi Papua demi keselamatan umatnya, bangsa Melanesia. Saya meyakini bahwa pasti Tuhan mempunyai Misi lain atas krisis kemanusian dan ekologis di tanah Papua pada umumnya dan kabupaten Nabire pada khususnya, ataukah ada okunm-okunum tertentu yang bermain, entahlah, kepergian Pater Nato H. Gobai, Pr dan Mgr. John Gayabi Phiilip Saklil, Pr serta P. Neles Kebadabi Tebai, Pr dan P. Yulianus Bidau Mote, Pr dan imam-imam pribumi lainnya beserta para pejabat OAP hingga kini masih menjadi misteri.

 

Kevakuman Mubes di Meepago dan Papua

 

Di sini muncul beberapa pertanyaan nakal, kenapa setelah kepergiaan Pater Nato tidak ada pejabat dari wilayah Meepagao yang meneruskan karya keselamatan yang ditinggalkannya? Dimana peran para bupati dan pejabat yang saat itu hadir sebagai peserta dan sponsor Mubes? Kenapa tidak ada langkah selanjutnya? Apakah dengan perginya Pater Nato, maka dengan begitu sirna juga rencana mulianya? Kenapa tidak ada yang mau berusaha? Apakah para pejabat di Wilaya Meepago sudah disogok untuk tidak merealisasikan rencana Pater Nato? Ini semua permainan siapa? Entalah, barangkali hanya Tuhanlah yang tahu.

 

Sebernanya, upaya pemusnahan bangsa Melanesia sudah dimulai, ketika tanah Papua terintegrasi secara cacat ke pangkuan NKRI. Di Nabire gejolak pemusnahan itu mulai nampak, ketika program transmigrasi dan Nabire berubah menjadi Miniatur Indonesia. 

 

Upaya untuk membendung taktik pemusnahan itu sudah ditempuh oleh bangsa Melanesia melalui para tokoh pemimpinnya. Pater Nato Gobay adalah salah satu bukti perlawanan OAP untuk memberantas upaya pemusnahan etnis Melanesia di Negara Melayu ini. Melalui Mubespa Pater Nato berkomitmen dengan konsisten untuk memusnahkan miras, lokalisasi, dan HIV/AIDS sebelum tiga kejahatan ini memusnahakan etnis Melanesia-OAP.

 

Dengan demikan, semua masalah di atas tanah Papua ini bisa diatasi dan diselesaikan dengan baik secara damai. Namun, sayangnya banyak orang yang karena gila rupiah memiih untuk menjadi Yudas Iskariot. Hal ini sangat nampak dalam perjuangan Pater Nato, sejatinya HIV/AIDS yang menjadi pembunuh dan pemusnah rumpung Melanesia di Papua bisa diatasi, namun karena strategi Si jahat Pater mendahului umatnya menuju Sang Khalik. Hal serupa barangkali terjadi juga pada perjuangan Pater Neles Kebadabi Tebai, Pr yang konsisten memperjuangkan “Papua Tanah Damai” melalui “Dialog Jakarta-Papua”. Mereka adalah nabi-nabi yang diutus oleh Allah untuk menyelamatakan bagi bangsa Papua yang sudah dan sedang menderita di atas tanah warisan lelurnya yang kaya akan susuh dan maduh.. Mereka adalah para tokoh Mesianis sebagai jawaban-jawaban doa pendahulu bangsa Papua yang sudah gugur di medan perjuangan atas krisis kemanusiaan di tanah Papua.

 

Sekali lagi jangan kira Tuhan sendiri yang akan turun menyelamatkan bangsa Papua dari tirani penjajahan NKRI. Israel bangsa terpilih Allah saja membutuhkan para Nabi seperti Musa dan Yosua untuk bebas dari Perbudakan Mesir dan menjadi bangsa Merdeka. Sekarang Nabi-Nabi dari Allah untuk bangsa Papua itu sudah, sedang dan akan terus hadir. Pada masa lalu, ada Pastor Nato Gobai dengan PR Mubesnya, ada Pastor Neles dengan PR Dialog Damainya, dan pada masa kini ada Sdr. Selpius Bobii dengan Aski Doa, Puasa, dan Rekonsiliasinya, ada temuan-temuan aktual dari Sdr. Russel Black dalam draf PON XX Dalam Bayang-Bayang Elit Lokal, Nasional, dan Internasional, serta Pemekaran Mengancam Eksisten Orang Asli Papua. OAP harus sadar bahwa orang-orang hebat tersebut merupakan juru selamat perabadan mereka, jika mereka masih saja mengelak dan menolak itu, maka jangan protes kepada Tuhan bahwa mengapa kami menderita seperti ini? 

 

*)Penulis adalah Mahasiswa SFTFT “Fajar Timur” Abepura-Papua. 

Editor: E.K.Tebai

Referensi:

Muyapa K Martinus. 2017. Banyak Berbicara Banyak Berkarya. PT. Pohon Cahaya, Yogyakarta.

Baca Juga
iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Quo Vadis Mubes RD. Nato Gobai: Sebuah Catatan Kritis Bagi Para Elit ‘Difabel’ di Meepago dan Papua

P O P U L E R

Trending Now

Iklan

iklan