Iklan

iklan

Tatap Muka Bersama Perwakilan Guru Se-Papua Tengah, Gebrakan Gubernur Dorong Pendidikan di Kabupaten

Tabloid Daerah
1.06.2026 | 2:45:00 PM WIB Last Updated 2026-01-06T10:48:16Z
iklan
Gubernur Meki Frits Nawipa di bersama Wagub Deinas Geley, di dampingi beberapa Kepala OPD Provinsi Papua Tengah, termasuk Ny. Nurhaidah Meki Nawipa dan jajarannya, Direktur Yayasan Masyarakat SM-3T Institute, pada pertemuan gubernur dan wakil gubernur bersama Guru Se-Provinsi Papua Tengah, Selasa (6/1/2026), pagi pukul 10.00 WIT, bertempat di Gedung Ballroom Kantor Gubernur Papua Tengah, Jalan Sisingamangaraja, Nabire.(#ElD)

[Tabloid Daerah], Nabire -- Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Tengah menggelar tatap muka bersama perwakilan guru se-Provinsi Papua Tengah.
‎Pertemuan ini merupakan komitmen Gubernur Provinsi Papua Tengah, Meki Frits Nawipa menjadikan pendidikan sebagai fondasi utama pembangunan manusia Papua di lingkungan pemerintahan Provinsi Papua Tengah.
‎Komitmen itu ditegaskan dalam kegiatan Tatap Muka, Gubernur dan Wakil Gubernur Papua Tengah bersama perwakilan Guru Se-Papua Tengah, Selasa (6/1/2026), pagi pukul 10.00 WIT, bertempat di Gedung Ballroom Kantor Gubernur Papua Tengah, Jalan Sisingamangaraja, Nabire.
‎Tatap muka ini sekaligus menandai keberhasilan 801 Guru Papua Tengah lulus Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) dengan tingkat kelulusan 100 persen, termasuk guru-guru dari wilayah tertinggal, terdepan, terluar (3T) dan daerah keterbatasan akses internet.
‎Perwakilan peserta PPG, Bernardus Kegou, guru asal Kabupaten Puncak Jaya menyampaikan kesaksian yang menggambarkan wajah pendidikan Papua yang sesungguhnya. 
‎Ia mengaku telah mengabdi sebagai guru sejak 1995 di wilayah pegunungan. Namun, selama puluhan tahun tak pernah merasakan sertifikasi.
‎“Selama saya mengajar di wilayah pegunungan, kami tidak pernah memperoleh sertifikasi. Baru tahun 2025 ini, kami guru-guru di wilayah 3T dan pegunungan bisa mendapatkannya,” ujar Bernardus.
‎Ia mengatakan proses PPG berlangsung di tengah konflik bersenjata yang terjadi di Puncak Jaya, akan tetapi, seluruh tahapan tetap berjalan hingga tuntas.
‎“Walaupun saat PPG berlangsung terjadi konflik di Puncak Jaya, puji Tuhan kegiatan ini tetap berjalan dan kami bisa berhasil,” katanya.
‎Bernardus juga menyampaikan dua usulan penting kepada Pemerintah Provinsi Papua Tengah. "Melanjutkan program PPG bagi guru-guru yang belum tersertifikasi, serta menuntaskan guru-guru di daerah paling terpencil yang belum sempat mengikuti PPG," pungkasnya.
‎“Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Kalau bukan Bapak Gubernur, siapa lagi?” tambahnya, disambut tepuk tangan peserta.
‎Pada kesempatan itu, Direktur Yayasan Masyarakat SM-3T Institute, Akhiruddin, dalam sambutannya menegaskan bahwa keberhasilan PPG Papua Tengah bukan sekadar capaian angka, melainkan peristiwa sejarah pendidikan.
‎“Ini bukan perayaan kemenangan biasa. Ini adalah sejarah baru pendidikan Papua Tengah,” ujarnya.
‎Akhiruddin memaparkan bahwa program ini mencakup dua skema besar: 519 guru, PPG Guru Tertentu Tahap 3, dan 282 guru dari daerah khusus terkendala internet, dengan total 801 guru dinyatakan lulus 100 persen.
‎Ia menekankan bahwa angka tersebut mewakili ratusan keluarga, ribuan murid, dan masa depan Papua Tengah.
‎“Angka-angka ini adalah cerita tentang 800 keluarga yang hidupnya berubah, ratusan sekolah yang kualitasnya meningkat, dan ribuan anak Papua yang masa depannya menjadi lebih terang,” pintanya.
‎Ia juga menyampaikan permohonan maaf atas keterbatasan teknis selama pendampingan, terutama karena waktu pelaksanaan yang sangat singkat dan kondisi wilayah yang ekstrem.
‎Namun tambahnya, ketabahan para guru Papua Tengah menjadi kunci keberhasilan saat ini.
‎“Bapak dan Ibu bukan guru biasa. Bapak dan Ibu adalah pahlawan sejati yang menaklukkan medan tersulit demi pendidikan,” tambahnya.
‎Di kesempatan itu, Gubernur Meki Nawipa dalam sambutannya menekankan bahwa kelulusan PPG harus berbanding lurus dengan tanggung jawab moral guru untuk kembali mengabdi.
‎“Saya minta dengan hormat, setelah ini guru-guru pulang dan mengajar. Jangan berhenti di sertifikat,” tegas Gubernur.
‎Ia menempatkan program PPG dalam kerangka kebijakan kesejahteraan guru dan kebangkitan ekonomi keluarga, bukan sekadar pemenuhan administrasi pendidikan.
‎“Tambahan penghasilan ini bukan untuk kredit baru, tapi untuk menguatkan keluarga guru. Ini kebangkitan ekonomi keluarga,” tandasnya.
‎Gubernur juga menegaskan bahwa program ini bukan proyek politik, melainkan kebutuhan objektif pendidikan Papua Tengah.
‎Ia menyebut pemerintah provinsi telah mendistribusikan ratusan guru, membangun basis data pendidikan yang bersih, serta menyiapkan kelanjutan program sertifikasi.
‎“Kami mau data guru harus bersih dan valid. Kalau datanya valid, insentif bisa dinaikkan. Kalau tidak valid, kita susah bergerak,” tegas orang nomor satu Papua Tengah.
‎Ia membeberkan Papua Tengah memiliki 11.204 guru, yang menurutnya merupakan modal besar untuk memajukan pendidikan jika dikelola dengan serius dan jujur.
‎“Tidak ada alasan sekolah tidak maju di Papua Tengah, yang ada guru terus benar-benar menyentuh anak-anak generasi emas menuju Papua Tengah Terang,” tegasnya.(*)




Penulis: ElD
Editor: Kebagibui Deto

Baca Juga
iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Tatap Muka Bersama Perwakilan Guru Se-Papua Tengah, Gebrakan Gubernur Dorong Pendidikan di Kabupaten
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan

Trending Now

iklan
iklan
iklan

Iklan

iklan