[Tabloid Daerah], Surabaya -- Sekitar 105 pelajar dan mahasiswa yang berasal dari suku Yali dan Lani yang tengah menempuh pendidikan di Kota Studi Surabaya, Jawa Timur, menyatakan sikap tegas mengutuk keras konflik dan perang suku yang kembali terjadi di Tanah Papua, khususnya di Provinsi Papua Pegunungan.
Pernyataan sikap resmi ini dikeluarkan pada Jumat (23/1/2026) siang dari Sekretariat Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Kabupaten Yahukimo di Surabaya, menyoroti penyelesaian kekerasan melalui budaya perang suku sebagai tindakan tidak manusiawi yang merugikan masyarakat sipil.
Dalam pernyataan sikap tersebut, Gabungan Pelajar dan Mahasiswa Yali serta Lani menegaskan bahwa konflik horizontal yang berujung pada korban jiwa tidak boleh terus dinormalisasi dengan alasan budaya.
Mereka menilai bahwa penyelesaian persoalan melalui kekerasan dan budaya perang suku bertentangan dengan hukum dan nilai-nilai kemanusiaan.
Koordinator pernyataan sikap, Fenius Kobak, yang juga Ketua Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Yahukimo Kota Studi Surabaya, menegaskan perang suku harus dihentikan dan diselesaikan melalui jalur yang bermartabat serta berkeadilan.
Senada dengan itu, Marlince Wenda, Ketua Ikatan Pelajar Mahasiswa Lani Jaya Kota Studi Surabaya, menyatakan bahwa perang suku hanya akan mendatangkan korban dan luka duka yang mendalam, bukan penyelesaian.
Pelajar dan Mahasiswa mendesak agar pelaku kekerasan ditangkap dan diproses melalui hukum adat, namun harus dilanjutkan dengan hukum pidana, terutama untuk kasus pembunuhan.
"Kami menolak penyelesaian kasus pembunuhan melalui hukum adat semata, dan menegaskan bahwa kasus pembunuhan harus diselesaikan melalui hukum pidana. Oleh karena itu, semua pihak harus terus mendorong penyelesaian yang baik," pinta pelajar dan mahasiswa melalui keterangan persnya.
Mereka juga mendesak Pemerintah Kabupaten Yahukimo dan Pemerintah Kabupaten Lani Jaya segera turun ke lapangan dan menyelesaikan konflik secara budaya yang bermartabat. Sementara itu, aparat keamanan didesak untuk menjamin keselamatan masyarakat.
"Aparat keamanan Jayawijaya segera mengamankan tempat perang, dan kami mendesak Pemerintah Kabupaten Jayawijaya memulangkan masyarakat yang berada di Wamena tanpa tujuan dan kepentingan yang jelas," desak Mahasiswa.
Lebih lanjut, ratusan mahasiswa ini meminta Kapolres Jayawijaya dan Kodim 1702 Jayawijaya untuk menjamin keamanan dan kenyamanan masyarakat.
Mereka juga mengajak seluruh mahasiswa Papua se-Indonesia, tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan, serta DPRK/DPRP, untuk bersinergi memastikan konflik horizontal tersebut tidak terus berulang.(*)
Penulis: Ril
Editor: Kebagibui Deto
Editor: Kebagibui Deto

