Iklan

iklan

Teddy Pekey: PRF XI Jadi Panggung Pemberdayaan Seniman dan UMKM Orang Asli Papua

Tabloid Daerah
10.16.2026 | 4:26:00 PM WIB Last Updated 2026-10-16T09:26:32Z
iklan
Ketua Komunitas Rasta Kribo (KORK), Teddy Pekey saat pembukaan PRF XI di Area Bandara Lama, Nabire, Provinsi Papua Tengah, Jumat (16/10/2026). /Sie Dok PRF - Deky Mote


[Tabloid Daerah], Nabire -- Ketua Komunitas Rasta Kribo (KORK), Teddy Pekey, menegaskan Papua Reggae Festival (PRF) ke-XI bukan sekadar perhelatan musik, melainkan ruang pemberdayaan seniman, pelestarian budaya, dan penguatan ekonomi masyarakat lokal di Tanah Papua.

Hal itu disampaikan Teddy saat pembukaan PRF XI di Area Bandara Lama, Nabire, Provinsi Papua Tengah, Jumat (16/10/2026).

Festival yang dibuka langsung oleh Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa, tersebut berlangsung hingga Sabtu (17/10/2026) dan dihadiri jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), para bupati, serta masyarakat.

Dalam sambutannya, Teddy menjelaskan bahwa KORK merupakan wadah bagi seniman lintas bidang di Tanah Papua, mulai dari musik, kuliner, sastra, tari, hingga berbagai bidang kreatif lainnya.

Ia menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Papua Tengah, Gubernur Meki Nawipa, dan unsur Forkopimda yang telah mendukung penyelenggaraan festival tersebut.

“Kami dari komunitas seniman merasa bangga. Dahulu, almarhum Bapak Lukas Enembe memberikan ruang dan waktu bagi seniman Papua untuk berkumpul di Jayapura. Hari ini, walau Provinsi Papua Tengah belum lama terbentuk, Bapak Gubernur dan unsur Forkopimda mampu menghadirkan kita semua di Nabire untuk menyelenggarakan Papua Reggae Festival,” ujar Teddy.

Ia menyebut kehadiran 36 grup band yang membawakan lagu-lagu daerah dengan irama reggae sebagai salah satu keistimewaan PRF XI.

Menurutnya, festival ini menjadi momentum penting bagi seniman Papua untuk memperlihatkan kekayaan musik dan bahasa daerah kepada khalayak yang lebih luas.

Selain pertunjukan musik, PRF XI juga menjadi momentum peluncuran buku berjudul 'Arnold Ap Sang Martir Dalam Pesona Rindu', yang ditulis oleh koordinator sastra Papua.

Bagi Teddy, kehadiran unsur sastra dalam festival musik menunjukkan bahwa panggung seni dapat menjadi ruang untuk merawat ingatan sejarah, memperkuat identitas, sekaligus memperkenalkan karya-karya kreatif orang Papua.

Ia berharap perhatian pemerintah daerah dan pihak swasta terhadap seniman lokal tidak berhenti pada penyelenggaraan PRF XI, tetapi berlanjut melalui penyediaan ruang berkarya yang berkesinambungan.

“Kami berharap ke depan panggung-panggung seperti ini terus ada dari pemerintah maupun swasta, agar seniman Tanah Papua dapat terus diberdayakan di tanahnya sendiri. Kualitas seniman Papua sangat luar biasa jika diberikan wadah yang megah,” katanya.

Teddy juga menyoroti pentingnya keterlibatan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam penyelenggaraan festival.

Menurutnya, kegiatan seni berskala besar seharusnya tidak hanya memberikan ruang bagi penampil, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat setempat.

Ia menyampaikan bahwa seluruh pelaku UMKM yang terlibat di area festival merupakan orang asli Papua (OAP).

“Kami juga memprioritaskan pemberdayaan ekonomi lokal, di mana seluruh pelaku UMKM yang terlibat di area festival adalah orang asli Papua,” jelasnya.

Keterlibatan tersebut diharapkan memberikan manfaat ekonomi secara langsung sekaligus memperkuat posisi masyarakat lokal dalam kegiatan budaya dan industri kreatif di daerahnya sendiri.

Menutup sambutannya, Teddy mengajak masyarakat Nabire, terutama generasi muda, untuk menjaga situasi keamanan dan ketertiban selama festival berlangsung.

Ia juga mendorong anak-anak muda agar memanfaatkan ruang seni untuk mengembangkan kreativitas dan menjauhi pergaulan yang dapat merugikan masa depan.

“Mari kita ciptakan hal-hal positif di Kota Nabire dan jauhi pergaulan bebas. Asah kreativitas kalian agar mampu bersaing dengan teman-teman di luar daerah maupun luar negeri,” pesannya.

Teddy turut menyampaikan terima kasih kepada seluruh kru dan tim teknis yang telah bekerja keras mempersiapkan acara tersebut.

Ia berharap PRF XI membawa manfaat nyata bagi perkembangan seni, pelestarian budaya, dan penguatan ekonomi masyarakat di Papua Tengah.

Bagi para seniman, PRF XI diharapkan menjadi lebih dari sekadar panggung hiburan, sebuah ruang untuk menunjukkan karya, menjaga bahasa dan identitas daerah, serta memastikan bahwa potensi kreatif orang Papua mendapat tempat di tanahnya sendiri.(*)




Penulis: Kebagibui Deto
Baca Juga
iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Teddy Pekey: PRF XI Jadi Panggung Pemberdayaan Seniman dan UMKM Orang Asli Papua
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan

Trending Now

iklan
iklan
iklan

Iklan

iklan