[Tabloid Daerah], Nabire -- Di tengah gemuruh musik reggae pada pembukaan Papua Reggae Festival (PRF) ke-XI di Area Bandara Lama, Nabire, Jumat (16/10/2026), sebuah karya sastra tentang perjalanan hidup dan perjuangan seniman legendaris Papua, Arnold Ap, resmi diluncurkan.
Komunitas Rasta Kribo (KORK) berkolaborasi dengan Komunitas Sastra Papua (Ko’Sapa) meluncurkan buku berjudul, "Arnold Ap Sang Martir Persona Rindu", karya penulis Igir Al Qatiri.
Peluncuran ini menjadi bagian dari upaya merawat ingatan sejarah, memperkuat identitas budaya, dan menghidupkan literasi di Tanah Papua.
Buku tersebut mengangkat perjalanan Arnold Ap bersama grup musik legendaris Mambesak, yang dikenal berperan dalam merawat dan memperkenalkan kekayaan seni serta kebudayaan Papua.
Ketua KORK, Teddy Pekei, mengatakan buku ini hadir dengan pendekatan sastra yang berbeda dari karya sejarah atau biografi pada umumnya.
Kisah perjalanan Arnold Ap disampaikan melalui bahasa puitis yang mengajak pembaca menyelami makna perjuangan dan kecintaan terhadap kebudayaan Papua.
“Izinkan kami hari ini meluncurkan satu buku berjudul, 'Arnold Ap Sang Martir Persona Rindu'. Perlu kami sampaikan bahwa Arnold Ap adalah salah satu seniman senior dan antropolog di Papua yang berkarya bersama grup band Mambesak," kata Teddy.
"Hari ini, melalui salah satu sastrawan di Papua, kami meluncurkan buku ini sebagai bentuk penghormatan sastra untuk beliau,” tandasnya.
Menurutnya, gaya penulisan yang menyerupai puisi membuat kisah perjalanan Arnold Ap bersama Mambesak dapat dinikmati melalui pendekatan sastra yang lebih menyentuh.
“Buku ini menceritakan bagaimana perjalanan hidup Arnold Ap di Papua bersama Mambesak dengan bahasa sastrawan dan gaya penulisan menyerupai puisi. Ini merupakan buku pertama, dan kami juga telah menyiapkan karya lain dari Igir Al Qatiri seperti 'Black Paradise',” ujarnya.
Teddy menjelaskan, peluncuran buku "Black Paradise", bagian kedua sebenarnya direncanakan berlangsung pada kesempatan yang sama.
Namun, rencana tersebut belum dapat direalisasikan karena proses pencetakan buku belum selesai.
Peluncuran buku tersebut tidak hanya menjadi agenda seremonial.
KORK juga menggelar lelang terbatas terhadap lima eksemplar cetakan pertama untuk menggalang dukungan bagi pengembangan karya sastra Papua.
Teddy mengatakan, buku tersebut belum diedarkan secara luas di seluruh Tanah Papua.
Pasalnya, lima eksemplar yang dibawa ke lokasi festival menjadi kesempatan awal bagi masyarakat dan para pemangku kepentingan untuk mendapatkan karya tersebut sekaligus mendukung penerbitan buku sastra lokal.
“Buku ini belum diedarkan secara meluas di seluruh Tanah Papua. Saat ini baru ada lima buku cetakan pertama yang kami bawa dan lelang hari ini dengan harga dua juta rupiah per eksemplar,” jelas Teddy.
Ia mengajak para kepala daerah, anggota DPRD, serta masyarakat yang hadir untuk berpartisipasi dalam lelang tersebut.
Dukungan itu diharapkan dapat membantu membuka ruang bagi penulis dan sastrawan Papua untuk terus menghasilkan karya.
Langkah ini sekaligus memperlihatkan bahwa festival musik dapat menjadi ruang pertemuan lintas bidang seni, mulai dari musik hingga sastra, yang sama-sama memiliki peran dalam menjaga warisan budaya.
Sementara itu, perwakilan Ko’Sapa, Alex Giyai, menjelaskan bahwa buku tersebut memuat beragam bentuk karya sastra, mulai dari puisi, esai, hingga cerita pendek yang diangkat dari kisah perjalanan Arnold Ap dan Mambesak.
Alex juga menyampaikan bahwa karya tersebut membawa pesan bagi grup-grup band yang tampil dalam PRF XI agar tidak hanya menjadikan musik sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana menyuarakan identitas dan kekayaan budaya Papua.
“Buku ini memuat puisi, esai, dan cerita pendek yang ditulis berdasarkan kisah perjalanan Arnold Ap dan Mambesak. Penulis menyampaikan pesan khusus yang ditujukan kepada seluruh grup band yang tampil meramaikan Papua Reggae Festival ke-XI ini,” ungkap Alex.
Ia menegaskan, musik dan kebudayaan memiliki hubungan erat dengan jati diri masyarakat.
Karena itu, perkembangan musik reggae di Papua diharapkan berjalan seiring dengan upaya menjaga bahasa, tradisi, sejarah, dan nilai-nilai budaya lokal.
“Musik adalah jiwa sebuah bangsa dan budaya adalah tubuh sebuah bangsa. Kami berharap lahir pelopor-pelopor musik reggae yang bisa menjadi ikon di Tanah Papua, sehingga para penulis dan sastrawan dapat terus mencatat serta mengabadikan identitas karya kalian dalam tulisan,” pungkasnya.
Peluncuran "Arnold Ap Sang Martir Persona Rindu" di panggung PRF XI menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya tidak hanya berlangsung melalui lagu dan pertunjukan, tetapi juga melalui tulisan yang merekam perjalanan tokoh-tokoh penting dalam sejarah Papua.
Di tengah perkembangan musik modern, karya sastra semacam ini diharapkan dapat menjaga ingatan kolektif generasi muda terhadap Arnold Ap dan Mambesak, sekaligus mendorong lahirnya seniman serta sastrawan baru yang terus menghidupkan identitas Papua melalui karya.(*)
Penulis: Kebagibui Deto

