[Tabloid Daerah], Nabire -- Papua Reggae Festival (PRF) XI Tahun 2026 resmi mencatatkan prestasi nasional setelah meraih penghargaan Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) atas pertunjukan musik yang membawakan lagu berirama reggae terbanyak di Indonesia.
Penghargaan tersebut diserahkan pada malam puncak penutupan PRF XI di Ibu Kota Provinsi Papua Tengah yang berloaksi di Area Bandara Lama, Nabire, Sabtu (17/10/2026), malam pukul 23.30 waktu Papua, dan ditutup dini hari pukul 01.30 waktu Papua Minggu (18/10/2026).
Sertifikat rekor diterima oleh Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa, bersama Ketua Komunitas Rasta Kribo (KORK) Papua, Teddy Pekei.
Festival yang berlangsung selama dua hari, 16–17 Oktober 2026, ini menghadirkan sekitar 36 musisi dan grup band dari berbagai wilayah Tanah Papua hingga berakhir dini hari pada hari Minggu, pukul 01.30 waktu Papua.
Mereka membawakan lebih dari 100 lagu daerah dengan irama reggae, menjadikan panggung festival sebagai ruang pertemuan musik, bahasa, dan identitas budaya Papua.
Pencapaian tersebut menjadi momentum bagi para musisi untuk menunjukkan bahwa bahasa daerah dapat terus hidup dan berkembang melalui musik modern, tanpa kehilangan akar budaya masyarakat yang melahirkannya.
Ketua Panitia PRF XI, Ema Dogomo, menyampaikan rasa syukur atas keberhasilan penyelenggaraan festival yang berlangsung aman hingga penutupan.
Ia mengungkapkan bahwa persiapan kegiatan telah dilakukan sejak Januari dengan melibatkan panitia yang bekerja secara intensif selama berbulan-bulan.
“Puji dan syukur kita panjatkan kepada Tuhan karena event ini berjalan aman hingga selesai. Terima kasih kepada seluruh masyarakat yang telah menjaga keamanan bersama. Kami membentuk panitia sejak bulan Januari dan bekerja keras hingga mencapai puncaknya malam ini,” ungkap Ema.
Ia juga mengapresiasi keterlibatan perempuan Papua Tengah dalam kepanitiaan.
Menurutnya, hampir seluruh posisi koordinator diisi perempuan yang bekerja bersama untuk memastikan setiap rangkaian acara berjalan dengan baik.
Ema menyampaikan terima kasih kepada KORK Papua, Gubernur Papua Tengah melalui Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga, Pemerintah Kabupaten Intan Jaya, Pemerintah Kabupaten Nabire, Sekretaris Daerah Provinsi Papua Tengah, Bappeda, serta berbagai organisasi dan pihak pendukung lainnya.
Ia menegaskan bahwa penghargaan MURI bukan hasil kerja satu pihak, melainkan pencapaian bersama seluruh musisi, panitia, dan masyarakat yang terlibat.
“Rekor MURI ini adalah milik kita bersama, milik para musisi yang datang dari Papua Pegunungan, Papua Selatan, Papua Barat, hingga Provinsi Papua. Di panggung ini, hampir 34 musisi dan kelompok musik hadir membawakan lebih dari 100 lagu daerah bernuansa reggae. Ini membuktikan bahwa anak-anak muda Papua mampu berkarya dan menghasilkan kreasi yang luar biasa,” tegasnya.
Dalam keterangannya, Ema menyebut hampir 34 musisi dan kelompok musik, sedangkan data penyelenggaraan menyebut sekitar 36 grup band.
Perbedaan angka tersebut perlu diklarifikasi berdasarkan data resmi panitia.
Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa, mengatakan pencapaian PRF XI harus menjadi momentum untuk memperluas pesan perdamaian di Tanah Papua.
Ia mengajak para musisi dan generasi muda memanfaatkan bakat seni untuk menghasilkan karya yang bermanfaat bagi masyarakat.
“Hari ini menjadi tanda bahwa kita bisa memecahkan rekor Indonesia dengan membawakan lebih dari seratus lagu reggae. Dengan penghargaan ini, kita harus makin gencar mengampanyekan perdamaian di atas tanah ini. Stop minuman keras dan perilaku tidak baik. Kalau kalian punya bakat musik, salurkan untuk menghibur dunia dan membanggakan negeri ini,” pinta Meki.
Menurutnya, kekayaan bahasa dan budaya yang dimiliki masyarakat Papua merupakan modal penting untuk melahirkan karya musik yang memiliki ciri khas dan mampu dikenal hingga tingkat internasional.
“Pencapaian rekor MURI ini tidak mudah. Papua mengirimkan pesan kepada Indonesia bahwa anak-anak muda kita mampu menyanyikan ratusan lagu reggae menggunakan bahasa daerah masing-masing. Ini adalah kekayaan, modal, dan kekuatan kita yang sangat luar biasa,” ujarnya.
Meki juga mendorong agar penyelenggaraan berikutnya memiliki target yang lebih besar, baik dari jumlah lagu maupun jangkauan kolaborasi musisi.
“Ke depan, kita harus buat yang lebih besar lagi, target kita lebih dari 200 lagu. Pekerjaan rumah kita selanjutnya adalah berdoa dan berusaha agar kelak kita bisa mengundang grup atau penyanyi reggae kelas dunia dari Afrika untuk tampil bersama kita di tanah ini, lalu kita tunjukkan kehebatan musik berbahasa daerah kita,” tambahnya.
Perwakilan MURI, Lutvi Syah, menjelaskan bahwa timnya berada di Nabire sejak 16 Oktober 2026 untuk menyaksikan dan memverifikasi penampilan para musisi selama festival berlangsung.
“Kami berada di Nabire sejak tanggal 16 Oktober 2026 untuk menyaksikan langsung dan memverifikasi jumlah lagu berirama reggae berbahasa daerah yang dibawakan oleh anak-anak muda Papua. Hasil verifikasi mencatat tidak kurang dari 100 lagu daerah yang sukses dimainkan selama dua hari penyelenggaraan Papua Reggae Festival XI,” jelas Lutvi.
Berdasarkan hasil verifikasi tersebut, MURI menganugerahkan sertifikat rekor berskala nasional kepada KORK Papua dan Pemerintah Provinsi Papua Tengah.
Lutvi mengapresiasi penyelenggaraan PRF XI sebagai ruang positif bagi generasi muda untuk mengembangkan kemampuan bermusik sekaligus memperkenalkan kebudayaan daerah melalui karya kreatif.
Ia berharap festival tersebut dapat diselenggarakan secara berkelanjutan dengan skala yang terus berkembang.
Menurutnya, jika dikelola dan dikemas semakin baik, PRF berpotensi menjadi salah satu daya tarik wisata budaya di Papua Tengah yang dapat menjangkau pengunjung dari berbagai daerah, bahkan mancanegara.
Raihan MURI pada PRF XI bukan hanya tentang jumlah lagu yang dibawakan, tetapi juga menunjukkan bagaimana musik reggae dapat menjadi medium pelestarian bahasa daerah dan ekspresi kebudayaan.
Dari pegunungan hingga pesisir, para musisi membawa bahasa, cerita, dan pengalaman masyarakat masing-masing ke satu panggung di Nabire.
Keberagaman tersebut memperlihatkan bahwa seni dapat menjadi ruang perjumpaan yang memperkuat persaudaraan sekaligus menyampaikan pesan sosial.
Tantangan berikutnya adalah menjaga agar pencapaian ini tidak berhenti pada seremoni penghargaan.
Dukungan terhadap musisi lokal, penyediaan ruang kreatif, pembinaan generasi muda, dan pelestarian bahasa daerah perlu berjalan berkesinambungan agar manfaat festival dapat dirasakan lebih luas.
Dengan target lebih dari 200 lagu pada penyelenggaraan mendatang dan harapan menghadirkan musisi reggae internasional, KORK Papua bersama para pendukung PRF kini memiliki tantangan baru, memperbesar panggung sekaligus menjaga akar budaya yang menjadi kekuatan utama musik Papua.(*)
Penulis: Kebagibui Deto

