Iklan

iklan

LMB Band Guncang PRF XI, Angkat Duka, Persaudaraan, dan Filosofi Hidup Suku Mee

Tabloid Daerah
10.16.2026 | 11:55:00 PM WIB Last Updated 2026-10-20T04:07:16Z
iklan
LMB Band asal Kabupaten Paniai sukses mengguncang panggung hari pertama PRF XI di Nabire, Papua Tengah, Jumat (16/10/2026). /Sie Dok PRF XI - Decky Mote

[Tabloid Daerah], Nabire -- Laki-laki Meepago Brother (LMB) Band asal Kabupaten Paniai sukses mengguncang panggung hari pertama Papua Reggae Festival (PRF) XI di Nabire, Papua Tengah, Jumat (16/10/2026).


Tidak sekadar mengajak penonton bergoyang, grup musik ini juga membawa pesan mendalam tentang duka, persaudaraan, filosofi hidup, dan identitas budaya suku Mee melalui lagu-lagu berbahasa daerah.

Penampilan LMB Band menjadi salah satu warna dalam perhelatan PRF XI yang mengangkat seni, budaya lokal, dan penggunaan bahasa daerah sebagai bagian penting dari ekspresi musik reggae di Tanah Papua.

Usai tampil, vokalis LMB Band, Bertho Gobai, menjelaskan makna di balik empat lagu yang mereka bawakan.

Setiap lagu, menurutnya, menyimpan cerita kehidupan dan nilai-nilai yang dekat dengan pengalaman masyarakat Mee di wilayah Meepago.

Lagu pembuka yang dibawakan LMB Band mengangkat kisah duka atas meninggalnya seorang saudara laki-laki.

Saudara-saudaranya yang berada di daerah atau kota berbeda tidak sempat menghadiri pemakaman karena baru menerima kabar setelah peristiwa tersebut terjadi.

“Lagu yang pertama menceritakan tentang kematian seorang saudara laki-laki. Saudaranya yang lain berada di daerah atau kota yang berbeda, sehingga tidak bisa hadir saat pemakaman. Mereka baru mendengar kabar duka tersebut dan mengetahui letak makamnya hanya melalui cerita atau penyampaian dari orang lain,” ujar Bertho.

Berlanjut ke lagu kedua, LMB Band menyampaikan kisah tentang seorang saudara yang pergi merantau dan lama tidak kembali.

Waktu berlalu hingga keduanya memasuki usia lanjut, sebelum akhirnya dipertemukan kembali.

“Lagu kedua menceritakan tentang hilangnya seorang saudara yang pergi merantau dan tidak kunjung kembali. Setelah mereka sama-sama berusia lanjut, barulah mereka dipertemukan kembali,” ungkapnya.

Kisah tersebut menghadirkan pesan emosional tentang ikatan persaudaraan yang tetap bertahan meski terpisah jarak dan waktu.

Pertemuan kembali menjadi momen berharga, terutama ketika seseorang yang selama ini dianggap hilang akhirnya hadir kembali dalam kehidupan keluarga.

Pesan yang tak kalah kuat hadir melalui lagu ketiga, yang mengangkat filosofi hidup suku Mee, “minum dari sumur sendiri.”

Bagi LMB Band, ungkapan tersebut bukan sekadar rangkaian kata, melainkan pengingat agar setiap orang berusaha memenuhi kebutuhan hidup dari sumber dan kemampuan sendiri, tanpa mengambil hak milik orang lain.

“Maknanya, jika ingin hidup, kita tidak boleh mengambil milik orang lain. Kita harus hidup dari sumur dan tungku kita sendiri,” tegas Bertho.

Filosofi ini mengandung nilai kemandirian, penghormatan terhadap hak sesama, serta pentingnya membangun kehidupan dengan mengandalkan sumber daya yang dimiliki sendiri.

Sementara itu, lagu keempat dibawakan dalam gaya medley Waita, sebuah ajakan untuk berdansa bersama ketika masyarakat suku Mee berkumpul di suatu tempat.

“Waita adalah sebuah ajakan, di mana ketika masyarakat suku Mee di wilayah Meepago berkumpul di suatu tempat dan sedang berdansa, lagu ini menjadi ajakan untuk mari kita berdansa bersama-sama,” jelasnya.

Melalui lagu tersebut, LMB Band menghadirkan suasana kebersamaan yang menjadikan musik sebagai ruang perjumpaan, tempat masyarakat merawat hubungan sosial sekaligus menghidupkan tradisi.

Bertho menyambut positif tema PRF XI yang memberikan ruang bagi seni budaya lokal dan mewajibkan penggunaan bahasa daerah dalam penampilan musik.

Menurutnya, kebijakan tersebut menjadi langkah penting untuk menjaga identitas masyarakat Papua yang kerap terpinggirkan di tengah dominasi lagu-lagu berbahasa asing.

Ia menilai musisi Papua perlu lebih berani menjadikan bahasa dan budaya sendiri sebagai sumber utama karya, bukan hanya mengikuti tren musik dari luar.

“Kebanyakan dari kita selama ini menyanyikan lagu dalam bahasa orang lain, seperti bahasa Fiji atau bahasa Inggris. Namun kali ini, kita merasa bahwa inilah diri kita, inilah identitas kita yang sebenarnya, dan hari ini sudah kita sampaikan lewat lagu,” tuturnya.

Ia berharap semangat tersebut tidak berhenti pada PRF XI, tetapi terus menjadi bagian dari penyelenggaraan festival berikutnya.

“Harapan kami ke depan, festival PRF selanjutnya terus menyisipkan unsur kultur dan budaya seperti ini,” tambah Bertho.

Selain mengapresiasi ruang bagi bahasa daerah, Bertho juga memberikan pujian terhadap penyelenggaraan PRF XI di Nabire.

Berdasarkan pengalamannya tampil sebanyak empat kali di Papua Reggae Festival, ia menilai pelaksanaan tahun ini memberikan pengalaman yang sangat memuaskan.

“Penyelenggaraan kali ini luar biasa. PRF yang kami ikuti selama ini tidak pernah sekeren ini, terlebih dengan banyaknya grup band yang hadir,” katanya.

Ia juga mengapresiasi pelayanan panitia, mulai dari manajemen kegiatan hingga pendampingan bagi para musisi melalui "Liaison Officer" (LO).

“Dari manajemen LMB Band, kami memastikan pelayanan mulai dari LO hingga panitia semuanya sangat memuaskan,” puji Bertho.

Menutup keterangannya, Bertho menegaskan bahwa perkembangan musik modern seharusnya tidak membuat musisi Papua meninggalkan akar budaya.

Sebaliknya, modernisasi perlu menjadi ruang untuk menciptakan warna musik baru yang tetap berpijak pada identitas masing-masing daerah.

Menurutnya, penggunaan bahasa daerah harus menjadi perhatian utama ketika musisi berbicara tentang pelestarian budaya.

Pada saat yang sama, kreativitas dan inovasi tetap diperlukan agar musik lokal dapat berkembang dan menjangkau generasi baru.

“Pesan saya ke depan, karena saat ini kita bicara tentang budaya dan identitas, maka penggunaan bahasa daerah harus menjadi hal yang paling utama. Selain itu, dengan hadirnya modernisasi, harus ada cipta rasa baru yang dipadukan secara selaras dengan budaya dan identitas itu sendiri,” pungkasnya.

Ia berharap setiap kabupaten di Tanah Papua dapat menghadirkan sentuhan budaya khasnya ke dalam karya musik, sehingga keberagaman bahasa, tradisi, dan pengalaman masyarakat menjadi kekuatan bagi perkembangan industri musik Papua.

Penampilan LMB Band di PRF XI memperlihatkan bahwa musik reggae dapat menjadi lebih dari sekadar hiburan.

Melalui bahasa daerah dan cerita kehidupan, musik mampu menjadi sarana merawat ingatan kolektif, memperkuat persaudaraan, dan menyuarakan identitas budaya kepada generasi sekarang maupun yang akan datang.(*)




Penulis: Kebagibui Deto
Baca Juga
iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • LMB Band Guncang PRF XI, Angkat Duka, Persaudaraan, dan Filosofi Hidup Suku Mee
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan

Trending Now

iklan
iklan
iklan

Iklan

iklan