Iklan

iklan

Empat Band Papua Pegunungan Guncang PRF XI di Hari Pertama, Gaungkan Persatuan dan Nasib Pengungsi

Tabloid Daerah
10.16.2026 | 10:05:00 PM WIB Last Updated 2026-10-17T02:20:18Z
iklan
Empat grup musik, yakni; Pikon Vibration dari Jayawijaya, Melanesian Beats dari Tolikara, Po Nindi dari Nduga, dan Holim Bro’s Band dari Jayawijaya, guncangkan Panggung PRF XI pada hari pertama, di Area Bandara Lama, Nabire, Papua Tengah, Jumat (16/10/2026). /Sie Dok PRF XI - Decky Mote


[Tabloid Daerah], Nabire -- Panggung Papua Reggae Festival (PRF) XI di Area Bandara Lama, Nabire, Papua Tengah, Jumat (16/10/2026), menjadi ruang bagi musisi Papua Pegunungan untuk menyuarakan identitas budaya, persatuan, hingga persoalan kemanusiaan melalui musik reggae.

Empat grup musik, yakni; Pikon Vibration dari Jayawijaya, Melanesian Beats dari Tolikara, Po Nindi dari Nduga, dan Holim Bro’s Band dari Jayawijaya, tampil membawa karya dengan lirik berbahasa daerah.

Mereka tidak hanya menghibur penonton. Tetapi juga, menyampaikan pesan tentang pentingnya mempertahankan jati diri orang Papua di tengah perubahan zaman.

Keikutsertaan mereka sekaligus memperlihatkan bagaimana musik dapat menjadi ruang untuk menyampaikan aspirasi masyarakat, termasuk kerinduan akan kedamaian dan harapan agar warga yang mengungsi akibat konflik dapat kembali menjalani kehidupan yang layak.

Pikon Vibration: Musik Harus Menjaga Jati Diri

Mewakili Pikon Vibration, Norsen Jikwa menyampaikan apresiasi atas kesempatan tampil untuk kedua kalinya di PRF.


Ia menilai penyelenggaraan tahun ini memberikan pengalaman positif, terutama dari sisi pelayanan panitia dan dukungan pemerintah.

“Dari kami sangat luar biasa, mulai dari panitia sampai pemerintah sangat mendukung kegiatan ini sehingga kami bisa datang ke sini. Kami pikir nanti kami akan datang dan tinggal sendiri-sendiri, ternyata kami difasilitasi mulai dari tempat tinggal, makan-minum, hingga dijemput,” ujar Norsen seusai tampil.

Dalam penampilannya, Pikon Vibration membawakan tiga lagu ciptaan sendiri dengan memadukan bahasa Lani, Dani, dan Inggris.

Lagu-lagu tersebut mengangkat pesan persatuan, semangat yang terinspirasi dari sosok Arnold Ap, serta realitas kehidupan anak-anak Papua yang merantau.

Bagi Norsen, musik bukan sekadar mengikuti tren atau perkembangan industri hiburan.

Seni justru harus menjadi sarana untuk memperkuat identitas dan memperkenalkan kekayaan budaya lokal kepada masyarakat luas.

“Pesan dari kami Pikon Vibration untuk semua generasi muda, jangan kita ikut perkembangan zaman yang seiring waktu selalu berubah-ubah. Kita harus punya pendirian. Dalam bagian seni musik, kita harus mengangkat jati diri dan identitas kita, mulai dari lagu dan musik daerah,” tegasnya.

Ia mengajak generasi muda Papua agar tidak kehilangan identitas di tengah perubahan zaman, tetapi tetap berani berkarya dengan bahasa dan budaya sendiri.

Melanesian Beats: Anak Muda Papua Harus Hidup untuk Seni

Pesan serupa disampaikan Melanesian Beats, grup musik asal Tolikara yang turut mewakili Papua Pegunungan di panggung PRF XI.


Menurut Norsen Jikwa dari Melanesian Beats, tiga lagu yang mereka bawakan memiliki tema beragam, mulai dari pembangunan daerah di Tolikara, persoalan kemanusiaan yang disampaikan melalui bahasa Mee, hingga kisah percintaan dalam bahasa Lani.

Ia mengapresiasi sambutan masyarakat Nabire serta pelayanan panitia yang dinilainya membuat para musisi dari wilayah pegunungan merasa dihargai dan diterima.

“PRF kali ini saya sangat mengapresiasi kerja panitia. Kami dari Papua Pegunungan sampai tiba di sini dilayani dengan baik, dihargai, dan diterima secara baik di tengah-tengah masyarakat luas di Nabire,” tuturnya.

Ia juga mengajak generasi muda untuk menjadikan seni sebagai bagian penting dalam kehidupan dan ruang untuk mengekspresikan diri.

“Pesan kami untuk Papua, anak-anak muda mulai hari ini hidup harus untuk seni, karena lewat seni kita menceritakan jati diri dan mengekspresikan diri kita,” katanya.

Po Nindi Bawa Suara Pengungsi Nduga ke Panggung Reggae

Berbeda dari dua grup sebelumnya, penampilan Po Nindi dari Nduga memiliki makna emosional tersendiri.

Grup ini untuk pertama kalinya tampil di panggung PRF, mewujudkan impian untuk membawa karya mereka ke festival musik berskala besar.

Ketua Po Nindi, Gipson Kogoya, mengatakan salah satu lagu yang mereka bawakan menceritakan kondisi masyarakat pengungsi asal Nduga yang tersebar di berbagai tempat dan sedang mencari perlindungan.

Melalui lagu tersebut, Po Nindi membawa persoalan kemanusiaan dari daerah asal mereka ke ruang publik, sekaligus menyampaikan harapan agar masyarakat Papua dapat hidup dalam situasi yang aman dan damai.

Gipson menegaskan bahwa perbedaan wilayah administrasi akibat pembentukan daerah otonomi baru (DOB) tidak boleh menghilangkan rasa persaudaraan antarmasyarakat Papua, baik yang tinggal di wilayah pegunungan maupun pesisir.

“Harapan kami ke depan untuk Tanah Papua, meskipun ada pembagian wilayah DOB, intinya kita tidak boleh terpisah-pisah, kita tetap satu Papua, baik gunung maupun pantai,” ujarnya.

Ia juga meminta Pemerintah Kabupaten Nduga dan Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan memberi perhatian serius terhadap kondisi warga pengungsi serta mengupayakan agar mereka dapat kembali ke tempat asal dengan aman dan menjalani kehidupan yang layak.

“Kami juga meminta kepada pemerintah Kabupaten Nduga dan Provinsi Papua Pegunungan untuk bisa segera mengembalikan masyarakat pengungsi yang tersebar di mana-mana ke tempat mereka, agar mereka bisa hidup layak sebagai manusia,” kata Gipson.

Ia menyampaikan terima kasih kepada Dewan Kesenian Papua Pegunungan, panitia lokal, Ema Dogomo, Teddy Pekey dari KORK, serta para liaison officer (LO) yang mendampingi mereka selama mengikuti festival.

Kehadiran Po Nindi menunjukkan bahwa panggung musik dapat menjadi ruang untuk menyampaikan suara masyarakat yang terdampak persoalan kemanusiaan.

Namun, harapan yang disampaikan melalui lagu juga membutuhkan perhatian dan langkah nyata dari pihak-pihak yang memiliki kewenangan.

Holim Bro’s Band: Lagu Daerah Jadi Terobosan PRF XI

Sementara itu, Lais Wenda yang mewakili Holim Bro’s Band dari Jayawijaya menilai PRF XI menghadirkan terobosan penting dengan mewajibkan peserta membawakan lagu berbahasa daerah.


Dalam penampilannya, Holim Bro’s Band membawakan lagu-lagu berbahasa daerah Nduga yang mengangkat ajakan membangun daerah, kerinduan akan kedamaian, dan kehidupan masyarakat.

Lais menilai kebijakan tersebut memberi ruang lebih besar bagi bahasa daerah untuk tetap hidup melalui karya musik, sekaligus mendorong para musisi agar menjadikan budaya sebagai bagian utama dari kreativitas mereka.

“Ini sesuatu yang luar biasa, karena dari PRF ke-1 sampai ke-10 hal seperti ini belum pernah diwajibkan. Hari ini sejarah terjadi. Kebijakan ini adalah terobosan luar biasa karena budaya itu penting untuk mengingatkan kita, sebab suatu bangsa pasti akan hilang ketika tidak tahu dan tidak mempertahankan budayanya,” ungkap Lais.

Ia juga mengapresiasi sambutan panitia dan pelayanan yang diterima para musisi selama mengikuti festival.

Menurutnya, dukungan tersebut membuat perjalanan panjang dari Papua Pegunungan menuju Nabire terasa sepadan.

Musik Menjadi Ruang Persatuan dan Pelestarian Budaya

Penampilan empat grup musik dari Papua Pegunungan memperlihatkan beragam pesan yang dapat disampaikan melalui panggung reggae.

Ada ajakan mempertahankan bahasa daerah, dorongan bagi generasi muda untuk berkarya, seruan menjaga persatuan, hingga harapan agar persoalan pengungsi mendapatkan penyelesaian.

Di tengah keberagaman bahasa, latar belakang, dan wilayah asal para musisi, PRF XI menjadi ruang perjumpaan yang memperlihatkan bahwa seni dapat menyatukan masyarakat sekaligus membuka ruang bagi persoalan sosial dan kemanusiaan untuk didengar.

Lebih dari sekadar pertunjukan, penggunaan bahasa daerah dalam lagu menjadi salah satu cara untuk menjaga identitas budaya Papua agar terus diwariskan kepada generasi berikutnya.

Bagi para musisi tersebut, pesan yang dibawa dari Nabire jelas, musik bukan hanya tentang irama dan hiburan, tetapi juga tentang siapa mereka, dari mana mereka berasal, dan masa depan seperti apa yang ingin mereka perjuangkan bagi Tanah Papua.(*)




Penulis: Kebagibui Deto
Baca Juga
iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Empat Band Papua Pegunungan Guncang PRF XI di Hari Pertama, Gaungkan Persatuan dan Nasib Pengungsi
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan

Trending Now

iklan
iklan
iklan

Iklan

iklan