![]() |
| Kepala Bapperida Provinsi Papua Tengah, Eliezer Yogi, saat ditemui di Ballroom Kantor Gubernur Papua Tengah, Nabire, Rabu (21/10/2026). /Ist. |
[Tabloid Daerah], Nabire -- Jika Provinsi Papua Tengah diumpamakan sebagai sebuah rumah besar, maka terdapat delapan kamar di dalamnya, delapan kabupaten dengan denyut, ritme, dan cerita yang tidak sama.
Di tengah hiruk-pikuk pembangunan wilayah baru ini, Badan Perencana Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Provinsi Papua Tengah memilih untuk berhenti sejenak.
Mereka mulai belajar 'mendengarkan' dinding-dinding rumah itu, mencari tahu di mana bagian yang retak, di mana yang bocor, serta bagian mana yang paling membutuhkan cahaya.
Kepala Bapperida Provinsi Papua Tengah, Eliezer Yogi, mengungkapkan keprihatinannya saat ditemui di Ballroom Kantor Gubernur Papua Tengah, Nabire.
"Kami ingin melihat sejauh mana pelaksanaan penurunan stunting dan angka kemiskinan di 8 kabupaten. Sebab dari data yang ada, Papua Tengah cukup tinggi untuk stunting, yaitu 32,5 persen," tegas Eliezer, kepada TaDahnews.com dalam wawancara, Rabu (21/10/2026).
Angka 32,5 persen itu bukan sekadar statistik dingin, melainkan jeritan kenyataan yang terbungkus angka.
Data itu berbicara tentang anak-anak yang bertaruh tumbuh di tengah dinginnya awan pegunungan Puncak Jaya, Intan Jaya, dan Puncak.
Ia adalah gambaran para ibu hamil di lembah Paniai, Dogiyai, dan Deiyai yang menantikan nutrisi memadai, hingga keluarga di pesisir Nabire dan Mimika—wilayah kaya sumber daya alam—yang masih harus bertanya apakah esok hari piring mereka akan terisi penuh.
Dengan jujur dan lugas, Eliezer menyebutnya sebagai gambaran nyata dari persoalan pembangunan di Papua Tengah.
Setiap wilayah di Papua Tengah menyimpan karakteristik unik.
Nabire unggul dengan potensi perikanan dan pariwisata; Mimika ditopang tambang raksasa dan infrastruktur pelabuhan; Paniai, Intan Jaya, Puncak Jaya, dan Puncak mengandalkan kebun kopi serta pertanian di dataran tinggi; sementara Dogiyai dan Deiyai menyimpan potensi hutan serta keindahan alam yang masih tersembunyi.
Namun, di balik keberagaman itu, seluruh wilayah menanggung 'luka' yang sama; akses geografis yang menantang, data yang belum akurat, serta program pembangunan yang belum saling bertegur sapa.
"Diperlukan kolaborasi lintas sektor yang solid, mulai dari validasi data yang akurat, pembinaan di kabupaten, hingga eksekusi program yang tepat sasaran," ujar Eliezer.
Bagi Eliezer, sebuah program pembangunan tidak bisa berjalan secara terisolasi. Pembangunan harus dirajut rapat—seperti jalinan benang pada sebuah noken.
Langkah konkret tersebut diwujudkan melalui hadirnya Program Papua Tengah BANGKIT (Bangun Generasi dan Keluarga yang Inklusif dan Tangguh).
Program ini dirancang khusus menyasar ibu hamil dan balita demi memotong rantai stunting dan kemiskinan ekstrem langsung dari akarnya.
"Program BANGKIT membutuhkan koordinasi yang kuat antara provinsi, kabupaten, dan perangkat daerah lintas sektor," paparnya.
Guna memantapkan langkah tersebut, Bapperida menginisiasi Focus Group Discussion (FGD) Penyusunan Naskah Rekomendasi Kebijakan Pengembangan Wilayah 2026.
Forum ini bukan sekadar ajang diskusi rutin, melainkan ruang refleksi bersama untuk mengakui tantangan yang belum usai.
Bapperida menegaskan komitmennya untuk tidak merancang kebijakan berbasis asumsi semata, melainkan berdiri di atas data valid dari kampung-kampung dan suara para ibu yang berjuang di Puskesmas.
Menanggapi stunting dan kemiskinan ekstrem yang menjadi prioritas nasional, Papua Tengah memilih untuk meresponsnya dengan kearifan lokal; duduk bersama, membicarakannya bersama, dan mengerjakannya bersama di delapan kabupaten.
"Sebab peta pembangunan bukanlah garis di atas kertas. Ia adalah jejak kaki dari Nabire hingga Mulia. Ia adalah asap dapur di Moanemani. Ia adalah suara anak yang harusnya tumbuh lebih tinggi dari gunung-gunungnya sendiri," ungkap Eliezer menutup perbincangan.
Hari ini, langkah awal perubahan itu mulai dianyam.
Bapperida Papua Tengah bertekad menulis ulang peta pembangunan wilayahnya—bukan lagi dengan tinta dingin, melainkan dengan komitmen nyata dan harapan baru bagi generasi mendatang.(*)

