![]() |
| Insos Ori mengguncang panggung Papua Reggae Festival (PRF) XI di Nabire, Jumat (16/10/2026). /Sie Dok PRF XI - Decky Mote |
[Tabloid Daerah], Nabire -- Insos Ori mengguncang panggung Papua Reggae Festival (PRF) XI di Nabire, Jumat (16/10/2026), membawa misi pelestarian bahasa daerah yang sukses memecahkan rekor MURI dalam balutan musik reggae yang magis.
Langit Nabire mulai meredup, namun panggung di Area Bandara Lama justru kian membara. Di bawah sorot lampu yang megah, Insos Ori, grup musik kebanggaan Jayapura, kembali memetik dawai dan menghentak panggung PRF XI.
Penampilan mereka bukan sekadar rutinitas musiman, melainkan sebuah pernyataan cinta yang mendalam pada akar budaya Bumi Cenderawasih.
Mince Pawere, sang vokalis, berdiri tegak di hadapan ribuan pasang mata.
Baginya, PRF adalah rumah kedua.
Ia telah mengawal festival ini sejak edisi pertama hingga kini menginjak tahun kesebelas.
Perjalanan panjang ini ia tempuh bersama Komunitas Rasta Kribo (KORK) Papua sejak masa kuliah hingga kini telah berkeluarga.
Kesetiaan itu berbuah manis, PRF XI kali ini hadir dengan napas yang berbeda; lebih intim dengan budaya dan penuh hormat kepada para maestro musik Papua seperti Mambesak dan Black Brothers.
Ada yang istimewa di balik keriuhan distorsi dan dentum bass malam itu.
Festival ini sukses mencatatkan namanya di Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI).
Syaratnya tidak main-main dan sangat ideologis, setiap band yang tampil wajib menciptakan serta membawakan satu hingga tiga lagu dalam bahasa daerah masing-masing.
Langkah berani ini diambil untuk membendung kepunahan bahasa ibu di kalangan generasi muda.
"Generasi muda sekarang cenderung lebih sering menggunakan bahasa luar. Banyak anak-anak yang tumbuh tanpa mengenali bahasa daerahnya sendiri," tutur Mince dengan nada yang bergetar namun tegas.
Baginya, musik adalah kendaraan paling ampuh untuk memulangkan ingatan kolektif anak muda Papua pada identitas aslinya.
Melalui lirik-lirik berbahasa daerah, Insos Ori ingin membuktikan bahwa tradisi bisa tampil sangat keren di atas panggung modern.
Apresiasi tinggi pun mengalir untuk Pemerintah Provinsi Papua Tengah dan panitia penyelenggara.
Dukungan penuh pemerintah dianggap sebagai oase yang memberikan ruang berekspresi bagi seniman lokal untuk bersinar di tanah sendiri.
Panggung yang megah dan pelayanan prima menjadi bukti bahwa musik reggae di Papua telah naik kelas, tanpa kehilangan jiwanya yang merakyat.
Namun, Mince mengingatkan bahwa perayaan ini jangan sampai menjadi sekadar seremoni.
Ia menaruh harapan besar agar semangat ini terus berlanjut hingga ke dapur rekaman.
"Pesan saya, jangan sampai langkah ini berhenti di sini. Teman-teman yang telah menciptakan lagu daerah patut diberikan penghargaan setinggi-tingginya, dibantu hingga mampu memproduksi album," pungkasnya.
Baginya, kebanggaan sebagai anak Papua harus terus berdenyut, jauh setelah lampu panggung PRF XI dipadamkan.(*)
Penulis: Kebagibui Deto

