![]() |
| Kepala Disdikbud Papua Tengah saat MoU PKS dengan Yayasan Mutiara Hitam Papua dan SAPA Foundation. /Ist. |
[Tabloid Daerah], Nabire -- Pemerintah Provinsi Papua Tengah melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan menggandeng Yayasan Syena Ahor Papua (SAPA) dan Yayasan Mutiara Hitam Papua untuk memperkuat kemampuan Bahasa Inggris guru dan siswa.
Sebanyak 150 guru dari lima kabupaten mengikuti pelatihan Bahasa Inggris setelah pemerintah daerah menjalin Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan kedua yayasan tersebut.
Kepala Seksi Data dan Informasi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Tengah, Yuly Yasmin Tecuari, mengatakan pelatihan pada semester ini sengaja difokuskan kepada guru. Menurutnya, guru merupakan kunci untuk memastikan kemampuan Bahasa Inggris tidak berhenti di ruang pelatihan, tetapi diteruskan kepada siswa di sekolah.
“Guru memiliki peran penting dalam meneruskan kemampuan Bahasa Inggris kepada siswa di sekolah,” kata Yuly.
Ia menjelaskan, 150 guru tersebut berasal dari Nabire, Dogiyai, Deiyai, Paniai dan Mimika. Pelatihan berlangsung selama 66 hari, mulai 1 Oktober hingga sekitar 10 Desember 2026.
Untuk pelaksanaannya, SAPA Foundation menangani pelatihan guru SD di Nabire, termasuk 17 guru di Dogiyai dan 19 guru di Deiyai. Sementara Yayasan Mutiara Hitam Papua menangani wilayah Paniai, Mimika serta sebagian wilayah Nabire.
“Untuk SAPA Foundation, di Nabire kita fokus kepada guru SD. Kemudian di Dogiyai ada 17 guru dan di Deiyai 19 guru. Sedangkan Yayasan Mutiara Hitam Papua menangani Paniai, Mimika dan sebagian Nabire,” jelasnya.
Geografis dan Keterbatasan Guru Jadi Tantangan
Yuly mengatakan pemilihan SAPA dan Yayasan Mutiara Hitam Papua dilakukan karena kedua lembaga tersebut dinilai memiliki pengalaman dalam pengembangan Bahasa Inggris di Tanah Papua.
Namun, perluasan program Bahasa Inggris di Papua Tengah bukan tanpa tantangan. Kondisi geografis, faktor keamanan hingga keterbatasan tenaga pendidik menjadi persoalan yang harus dihadapi pemerintah.
“Ini tantangan dan kami harus mencari solusi terbaik untuk bisa memajukan anak-anak di Papua Tengah,” ujarnya.
Menurut Yuly, program tersebut ditargetkan ke depan dapat menjangkau seluruh delapan kabupaten di Papua Tengah.
Adapun tiga kabupaten yang belum menjadi sasaran program pada tahun ini akan terlebih dahulu disurvei untuk mengetahui kebutuhan guru sekaligus melihat kondisi wilayah masing-masing.
Bahasa Inggris Jadi Bagian Transformasi Pendidikan
Kepala Bidang Data dan Layanan Pendidikan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Tengah, Yulianus Kuayo, menegaskan penguatan Bahasa Inggris merupakan salah satu fondasi transformasi pendidikan yang sedang dibangun Pemerintah Provinsi Papua Tengah.
Menurutnya, pemerintah mulai mengubah pola lama yang lebih banyak memberikan kesempatan kepada sebagian siswa untuk mengikuti kursus Bahasa Inggris di luar Papua.
Kini, pembelajaran tersebut mulai dibangun dari dalam Papua Tengah agar aksesnya dapat dinikmati lebih banyak anak.
“Salah satu transformasi pendidikan yang dilakukan adalah bagaimana kita menyiapkan anak-anak Papua dari Papua Tengah supaya berdaya saing. Dulu beberapa anak diseleksi lalu dibiayai untuk mengikuti kursus ke luar Papua. Sekarang konsep itu kita ubah,” beber Yulianus.
Program tersebut mulai diberikan sejak jenjang pendidikan dasar, khususnya kelas IV, V dan VI SD, kemudian dilanjutkan ke jenjang SMP, SMA hingga SMK.
Data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan menunjukkan, pada 2025 sebanyak 4.400 siswa telah mengikuti kursus Bahasa Inggris. Sementara pada 2026 terdapat 2.294 siswa yang mengikuti program tersebut.
Yulianus menegaskan, program itu tidak dirancang sebagai pelatihan sesaat. Siswa yang telah mengikuti kursus pada tahun sebelumnya akan tetap mendapatkan pembelajaran pada jenjang pendidikan berikutnya.
Disiapkan Sejak SD untuk Masuk SMA Mepago
Kebutuhan penguasaan Bahasa Inggris juga semakin penting karena kemampuan tersebut menjadi salah satu syarat masuk SMA Mepago.
“Salah satu syarat masuk ke SMA Mepago adalah kemampuan Bahasa Inggris. Lalu nanti kalau ada yang bertanya dari mana anak-anak yang bisa Bahasa Inggris, kita sudah siapkan dari bawah. Kita sudah mulai dari SD, SMP, SMA dan SMK,” ujarnya.
Menurut Yulianus, kebijakan tersebut semakin penting seiring adanya pengiriman siswa keluar Nabire. Pemerintah ingin memastikan anak-anak Papua Tengah tidak hanya memperoleh kesempatan melanjutkan pendidikan, tetapi juga memiliki kemampuan yang dibutuhkan untuk bersaing.
“Yang dilakukan adalah menyiapkan anak-anak agar memiliki kesempatan, tanpa pengecualian,” katanya.
Ia menambahkan, penguatan Bahasa Inggris diharapkan menjadi modal bagi anak-anak Papua Tengah untuk membuka akses yang lebih luas terhadap pendidikan sekaligus dunia kerja.
“Itulah transformasinya. Bahasa Inggris ini salah satu dasar yang memang Pak Gubernur mau letakkan. Semua anak punya hak mendapatkan akses bahasa asing mulai dari dasar, dan gurunya juga harus dilatih,” pungkas Yulianus.
Program ini sekaligus menunjukkan bahwa transformasi pendidikan Papua Tengah tidak hanya diarahkan pada pembangunan fasilitas, tetapi juga pada peningkatan kapasitas guru dan pembentukan kompetensi siswa sejak pendidikan dasar. Target akhirnya bukan sekadar bisa berbahasa Inggris, melainkan memastikan anak-anak Papua Tengah memiliki bekal yang lebih kuat ketika memasuki jenjang pendidikan dan dunia kerja yang semakin terbuka.(*)
Penulis: Dani M Badii.

