Iklan

iklan

Resmi Buku, 'Tragedi Dogiyai Berdarah 31 Maret 2026', Diluncurkan: Catatan Kritis SRP

Tabloid Daerah
5.05.2026 | 12:04:00 PM WIB Last Updated 2026-05-05T06:24:23Z
iklan
Sebuah catatan kritis Solidaritas Rakyat Papua (SRP) di Dogiyai tertuang dalam Buku, 'Tragedi Dogiyai Berdarah 31 Maret 2026', resmi diluncurkan, pada Selasa (5/5/2026), pagi pukul 09.00 waktu Papua. (#TaDahNews-Deto)


[Tabloid Daerah], Nabire -- Sebuah catatan kritis Solidaritas Rakyat Papua (SRP) di Dogiyai tertuang dalam Buku, 'Tragedi Dogiyai Berdarah 31 Maret 2026', resmi diluncurkan, pada Selasa (5/5/2026), pagi pukul 09.00 waktu Papua, di Aula Gereja Katolik Kristus Raja Siriwini, Nabire, Papua Tengah.
‎Pantauan TaDahNews.com, bukan hanya peluncuran tapi juga, diskusi tentang buku tersebut, berlangsung penuh antusiasme dan saling berinteraksi tanya-jawab guna mencari dan menyepakati pembentukan investigasi yang independen, transparan, dan akuntabilitas.
‎Karya yang ditulis oleh Siorus Ewainaibi Degei ini hadir sebagai dokumen literasi sejarah sekaligus gugatan atas rangkaian kekerasan sekaligus tamparan keras terhadap pengungkapan kasus yang dianggap jalan di tempat.
‎Peristiwa kelam itu bermula dari teka-teki kematian Bripda Juventus Edowai (JE), anggota Polres Dogiyai.
‎Kematian Bripda JE yang belum terpecahkan itu disusul tembakan kepada warga sipil di Dogiyai sebagai operasi balas dendam oleh aparat kepolisian.
‎Hasilnya fatal bahwa 8 warga sipil menjadi korban dalam rentetan kejadian sepanjang 31 Maret hingga 2 April 2026 tersebut.
‎Benediktus Goo, Ketua SRP Dogiyai, Penanggungjawab Diskusi dan Peluncuran Buku dalam sambutannya mengatakan langkah ini juga sebagai menolak lupa di tengah kemajuan teknologi.
‎Ketua SRP Dogiyai juga menegaskan penulisan buku ini dilatarbelakangi oleh keresahan mendalam atas berubahnya wajah Dogiyai.
‎Menurutnya, Dogiyai yang dahulu dikenal karena hasil perkebunan dan kearifan lokalnya, kini justru identik dengan konflik, kebakaran, dan pembunuhan yang pelakunya selalu berakhir misterius.
‎Dirinya merasa ironis karena, di tengah zaman elektronik yang serba canggih, aparat keamanan terkesan sulit mengungkap dalang di balik berbagai peristiwa berdarah tersebut.
‎“Dasar mengapa buku harus ditulis dan mengapa harus diluncurkan, karena Dogiyai hari ini dikenal karena konflik. Hari ini terjadi kebakaran, pencurian, dan pembunuhan di mana-mana, tetapi semua pelakunya misterius dan tak satupun terungkap,” kata Goo.
‎Ia menambahkan buku ini diposisikan sebagai kajian dan riset awal bagi para penyelidik dan investigator di masa depan.
‎Pasalnya, hal ini agar peristiwa ini tidak menguap begitu saja.
‎Benediktus menekankan bahwa generasi muda Dogiyai berkomitmen untuk melawan lupa dengan mendokumentasikan setiap peristiwa secara tertulis.
‎Baginya, peluncuran buku ini bukanlah akhir, melainkan proses berkelanjutan untuk mendesak pengungkapan kasus, termasuk pembacokan anggota polisi Bripda Pesedau hingga penembakan warga sipil.
‎“Peluncuran buku kali ini bukan akhir dari sebuah perjuangan kejadian kemarin, tetapi ini adalah proses dan progres selanjutnya untuk kami masih selidiki sampai pelaku harus ungkap. Kami mendesak pihak berwenang mengungkap siapa pembunuh satu anggota polisi yakni Juventus Edowai dan memproses pelaku penembakan lima orang yang tewas di tempat,” jelasnya.
‎Pada kesempatan itu, pesan Bupati Dogiyai, Yudas Tebai yang dibacakan Ketua Komisi A DPRD Dogiyai, Yohanes Degei, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas lahirnya karya literatur kritis ini.
‎Bupati mengakui membaca buku ini memunculkan kesedihan yang mendalam karena harus mengingat kembali luka lama, namun di sisi lain ia merasa bersyukur karena suara hati rakyat telah berhasil didokumentasikan.
‎Yudas menilai kehadiran buku ini sejalan dengan visi misi pemerintah dalam membangun kehidupan sosial yang harmonis dan demokratis.
‎“Melihat lahirnya buku ini, saya menyambut dengan hati yang lembut. Di satu sisi ada rasa sedih karena, kembali mengingat kesedihan yang mendalam, namun di sisi lain ada rasa syukur. Buku ini bukan sekadar kumpulan tulisan, melainkan suara hati rakyat yang menjadi saksi bisu merekam apa yang sebenarnya terjadi,” ungkap Yohanes Degei.
‎Bupati Yudas menegaskan pemerintah daerah berkomitmen penuh untuk mendorong proses hukum yang transparan dan bertanggung jawab.
‎Ia menekankan bahwa pembangunan Dogiyai sebagai ‘Honai’ atau rumah besar bagi semua pihak tidak akan tercapai jika semua pihak menutup mata terhadap realitas pahit yang ada.
‎Melalui sambutan tersebut, ditegaskan pula fokus pemerintah pada pemulihan trauma bagi keluarga korban serta penguatan dialog untuk mencegah kekerasan serupa terulang kembali.
‎“Darah yang tumpah tidak boleh menjadi benih permusuhan, melainkan harus menjadi pemicu semangat untuk membangun masa depan yang lebih bermartabat. Kita harus hidup rukun dalam Honai besar ini, saling menghormati dan melindungi,” tandasnya.

Pada momen tersebut pula, Siorus Ewainaibi Degei, Penulis Buku, 'Tragedi Dogiyai Berdarah 31 Maret 2026', membedah bukunya setebal 400an halaman.

Siorus yang masih dalam pendidikan menjadi Imam, saat ini masih frater menambahkan isi buku ada tuju bab, 390 halaman dan 28 nomor romawi.

"Di dalam isinya itu sambutan-sambutan, masuk ke mengeksplorasikan Kabupaten Dogiyai sebelum Tahun 2024, dan setelah Tahun 2024 ke atas hingga Dogiyai menjadi daerah merah," ujar Frater Siorus.

"Dulu Kabupaten Dogiyai dikenal lembah Hijau, kini dikenal sebagai lembah merah," lanjutnya.

Frater mengungkapkan yang menjadi penting adalah bagian kronologi dan data korban.

"Saya rasa bagian yang menjadi rujukan investigasi ini harus terus didorong agar benar-benar diungkap pelaku pembunuhan Bripda Juventus Edowai dan motifnya, tapi juga 8 orang warga sipil yang juga harus diungkapkan," ungkap Siorus.
‎Kegiatan ini pada awalnya direncanakan akan dihadiri Bupati Kabupaten Dogiyai, Kapolres Dogiyai, Komnas HAM Papua, namun dikarenakan ada kesibukan lainnya sehingga belum dikonfirmasi kehadiran mereka dalam kegiatan ini.

Kegiatan dilanjutkan dengan peluncuran buku secara resmi dan diskusi yang menghadirkan narasumber penting lainnya, seperti; Yohanes Degei, selaku Ketua Komisi A DPRD Kabupaten Dogiyai, Eka Kristina Yeimo, selaku Anggota DPD RI, Yulius Wandagau, selaku Ketua Pokja Adat MRP PT, Fritz Ramandey selaku Kepala Komnas HAM Papua, Felix Degei, selaku Akademisi, Selpius Bobii selaku Aktivis HAM Papua.(*)



Penulis: Kebagibui Deto
Baca Juga
iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Resmi Buku, 'Tragedi Dogiyai Berdarah 31 Maret 2026', Diluncurkan: Catatan Kritis SRP
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan

Trending Now

iklan
iklan
iklan

Iklan

iklan