Iklan

iklan

Penutupan MuspasMee VIII, Bupati Yampit Nawipa: Prioritas 'Eda-Owada' dan Bangun Ekonomi Kampung Dalam Semangat Gerejani

Tabloid Daerah
2.08.2026 | 7:05:00 PM WIB Last Updated 2026-02-09T04:26:27Z
iklan
Bupati Kabupaten Paniai, Yampit Nawipa menutup Muspasmee ke-VIII di Distrik Aradide, Kabupaten Paniai, Provinsi Papua Tengah, tepatnya di Paroki Kristus Jaya Komopa, Dekenat Paniai, Keuskupan Timika. (#Istimewa)

[Tabloid Daerah], Paniai -- Udara Komopa, Distrik Aradide, Kabupaten Paniai, Provinsi Papua Tengah, Minggu (8/2/2026) siang itu, terasa tebal oleh haru dan semangat di bawah langit sejuk.

Di tengah ribuan umat yang memadati Pastoran Kristus Jaya, Dekenat Paniai, Keuskupan Timika, sosok Bupati Paniai, Yampit Nawipa hadir berbaur bersama umat Katolik dari lima dekenat keskupan Timika.

Ia bukan mengenakan seragam dinas yang kaku, melainkan balutan busana adat Suku Mee, merupakan pesan khusus intrinsik, sebuah simbol kerendahan hati yang langsung menyentuh sanubari.

Momen sakral penutupan Musyawarah Pastoral Mee (MuspasMee) ke-VIII tersebut menjadi panggung bagi pemimpin muda ini untuk menegaskan kembali bahwa pembangunan di Papua Tengah tidak bisa berjalan tanpa kolaborasi erat dengan kekuatan spiritual.

Dalam sambutannya, Bupati yang akrab disapa Womaki tersebut memulai dengan permohonan maaf.

Ia menyesal tidak dapat membersamai umat saat pembukaan, sebab di waktu yang sama, seluruh kepala daerah harus menghadiri Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) di Bogor. Sebuah permintaan maaf yang disampaikan dengan tulus.

Namun, detail yang paling mencuri perhatian adalah pakaian adat yang ia kenakan.

Bukan hanya sekadar identitas visual, itu adalah gestur politik budaya yang kuat.

Bupati termuda se-Indonesia itu secara spesifik meminta izin kepada panitia dan peserta dari lima dekenat Keuskupan Timika untuk mengenakan pakaian adat sama seperti panitia dan peserta lainnya. Ia berdiri menonjol, dan sebuah janji sinergi.

"Pada kesempatan ini, saya sampaikan permohonan maaf, saat pembukaan tidak dapat hadir karena, kami para pimpinan daerah semua di Bogor. Dan, saya menyesuaikan dengan busana adat ini izin, mohon maaf, agar kami di sini semua sama di mata Tuhan," ucap Orang Nomor Satu Kabupaten Paniai, merangkul hadirin dengan kerendahan hati.

Bupati Womaki menegaskan bahwa kolaborasi antara pemerintah dan Gereja Katolik memiliki posisi strategis untuk menjawab berbagai persoalan sosial dan ekonomi kerakyatan Papua Tengah.

Forum MuspasMee ke-VIII, baginya, merupakan ruang refleksi krusial di tengah tantangan kemiskinan, pendidikan, kesehatan yang timpang, hingga degradasi nilai kebersamaan yang semakin kompleks.

Pembangunan daerah, menurutnya, tidak boleh hanya bertumpu pada aspek fisik semata. Infrastruktur memang penting, tetapi penguatan moral, spiritual, dan solidaritas sosial jauh lebih mendasar. Jiwa harus dibangun, sebelum fisiknya menjulang.

"MuspasMee ke-VIII ini, bagi saya merupakan forum pastoral strategis Gereja Katolik yang berfungsi sebagai ruang refleksi, evaluasi, serta perumusan arah pelayanan pastoral agar tetap relevan dengan dinamika sosial masyarakat Mee," ujarnya, memberikan bobot pada peran Gereja.

Ia lantas menggarisbawahi upaya konkret yang harus diprioritaskan, yang ia sebut sebagai 'prioritas eda-owada'. Ini bukan sekadar istilah, melainkan semangat hidup dan tekuni ekonomi berbasis kampung yang bertali-temali dengan kearifan lokal. Intinya adalah pembangkitan ekonomi di tingkat akar rumput.

"Saya mau harus prioritas eda-owada diwujud-nyatakan, piara babi, piara ayam, bebek, kelinci, ikan, bikin kebun pangan lokal, sayuran, kopi, dan tempat wisata tata baik agar ada spot-spot wisata dan destinasinya bisa menjadi pemasukan di kampung itu sendiri, serta lain sebagainya," kata Bupati berjulukan anak muda gerak cepat ini, memberikan panduan praktis.

Di akhir acara, Perwakilan panitia pelaksana MuspasMee VIII, Pastor Yosep Setyadi, menyampaikan apresiasi yang mendalam.

Pasalnya, kehadiran dan dukungan Bupati Paniai Yampit Nawipa dinilai bukan sekadar basa-basi seremonial.

"Kehadiran langsung Bupati Paniai bukan sekadar seremonial, melainkan bentuk nyata dukungan pemerintah terhadap pelayanan Gereja yang bersentuhan langsung dengan kehidupan umat," pungkas Pastor Yosep Setyadi.

Penutupan MuspasMee VIII ini menjadi penegasan tekad kolektif untuk terus membangun Paniai yang harmonis, bermartabat, dan berkelanjutan.(*)




Penulis: Kebagibui Deto
Baca Juga
iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Penutupan MuspasMee VIII, Bupati Yampit Nawipa: Prioritas 'Eda-Owada' dan Bangun Ekonomi Kampung Dalam Semangat Gerejani
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan

Trending Now

iklan
iklan
iklan

Iklan

iklan