Iklan

iklan

Investasi Masa Depan: 16 Putra-Putri Dogiyai Dikirim ke Unpar Bandung Jadi Calon Guru

Tabloid Daerah
10.14.2026 | 3:48:00 PM WIB Last Updated 2026-10-14T13:59:14Z
iklan
 Pelepasan 16 calon mahasiswa di Hotel Adamant, yang berlokasi di Jalan Poros Wadio, Bumi Wonorejo, Distrik Nabire, Kabupaten Nabire, Papua Tengah, Rabu (14/10/2026), sekitar pukul 09.00 waktu Papua./TaDahnews-DT


[Tabloid Daerah], Nabire -- Pemerintah Kabupaten Dogiyai melalui Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) menyiapkan 16 calon mahasiswa untuk menempuh pendidikan keguruan di Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), Bandung, Jawa Barat.

Program kerja sama ini diarahkan untuk memperkuat kualitas pendidikan sekaligus menyiapkan regenerasi tenaga pendidik dari putra-putri asli Dogiyai.

Pelepasan resmi 16 calon mahasiswa tersebut dilakukan oleh Bupati Dogiyai, Yudas Tebai, di Hotel Adamant, Jalan Poros Wadio, Bumi Wonorejo, Distrik Nabire, Kabupaten Nabire, Papua Tengah, Rabu (14/10/2026), sekitar pukul 09.00 waktu Papua.

Kegiatan itu dihadiri Kepala Disdikpora Dogiyai, David Goo, Sekretaris Disdikpora Agustinus Degei beserta jajaran, serta para calon mahasiswa yang didampingi orang tua masing-masing.

Dalam sambutannya, David Goo menjelaskan bahwa program tersebut merupakan langkah konkret pemerintah daerah untuk menjawab kebutuhan tenaga pendidik sekaligus meningkatkan mutu pendidikan di Kabupaten Dogiyai.

Kepala Disdikpora Dogiyai, David Goo saat memberikan sambutannya

Menurutnya, kerja sama dengan Unpar lahir melalui proses perencanaan dan koordinasi dengan sejumlah perguruan tinggi sebelum pemerintah daerah menetapkan kampus mitra.

“Dalam rangka menata setiap potensi yang ada, lahirlah program kerja sama antara Pemerintah Kabupaten Dogiyai dengan Universitas Katolik Parahyangan. Program ini bertujuan mengisi kekosongan tenaga pendidik sekaligus menata mutu dan kualitas pendidikan,” ujar David.

David memaparkan, sebelum kerja sama ditetapkan, Disdikpora Dogiyai telah melakukan koordinasi dengan sejumlah perguruan tinggi, yakni Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Universitas Cenderawasih Jayapura, dan Universitas Katolik Parahyangan Bandung.

Tahapan berikutnya ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) oleh Bupati Dogiyai di kampus Unpar.

Setelah itu, kedua pihak menyelaraskan persepsi mengenai program studi, mekanisme seleksi, dan jumlah calon mahasiswa yang akan diterima.

Pada tahap perencanaan, jumlah peserta yang ditargetkan mengikuti program kerja sama tersebut sebanyak 20 orang.

Proses pendaftaran dilakukan secara manual dan daring.

Dari proses itu, sebanyak 50 orang mendaftarkan diri dengan menyerahkan persyaratan yang ditentukan.

"Seleksi dilaksanakan melalui beberapa tahapan, meliputi pemeriksaan administrasi, tes tertulis untuk mengukur kemampuan akademik, wawancara guna mengetahui potensi dan minat calon mahasiswa terhadap dunia pendidikan, serta pemeriksaan kesehatan sebelum keberangkatan," papar Goo.

David mengungkapkan, proses seleksi dilakukan dengan melibatkan pihak universitas agar penilaian mengikuti standar akademik kampus.

"Tim penguji yang didatangkan dari Unpar berjumlah empat orang, terdiri atas seorang profesor, seorang dosen bergelar doktor, dua dosen bergelar magister, serta unsur pimpinan fakultas keguruan dan ilmu pendidikan," ungkapnya.

Ia juga menegaskan bahwa pihak Disdikpora tidak melakukan intervensi terhadap proses seleksi yang dijalankan pihak universitas.

Berdasarkan hasil seleksi, sebanyak 20 peserta awalnya dinyatakan memenuhi persyaratan.

Namun, lima orang kemudian mengundurkan diri dengan berbagai alasan, termasuk memilih program studi lain.

Disdikpora selanjutnya melakukan penggantian melalui daftar peserta berikutnya.

Akan tetapi, dalam proses lanjutan tersebut, tidak semua calon pengganti melaporkan kesiapan untuk berangkat, hanya satu orang yang melaporkan diri siap.

"Dengan demikian, jumlah akhir calon mahasiswa yang mengikuti program kerja sama pendidikan Pemkab Dogiyai dan Unpar ditetapkan sebanyak 16 orang," tegasnya.

David mengatakan, program ini bukan sekadar memberikan kesempatan bagi generasi muda Dogiyai untuk mengenyam pendidikan tinggi, melainkan bagian dari upaya jangka panjang untuk meningkatkan ketersediaan dan kualitas tenaga pendidik di daerah.

Ia menilai, persoalan tenaga pendidik dan mutu pembelajaran di satuan pendidikan membutuhkan perhatian serius serta kebijakan yang berkelanjutan.

"Berbagai program peningkatan kualifikasi guru, termasuk pendidikan sarjana bagi guru dalam jabatan dan rekognisi pembelajaran lampau, telah menjadi bagian dari upaya pengembangan kapasitas tenaga pendidik," katanya.

Menurutnya, regenerasi melalui pendidikan calon guru juga diperlukan untuk menjawab kebutuhan ke depan.

Salah satu hal yang disoroti dalam program kerja sama ini adalah dukungan pembiayaan bagi para peserta.

"Pemerintah daerah memberikan kesempatan kepada calon pendidik untuk menempuh pendidikan dengan pembebasan biaya yang ditanggung melalui program kerja sama, sekaligus memfasilitasi tempat tinggal selama proses pendidikan di Unpar," ujarnya.

Dukungan tersebut diharapkan dapat membantu peserta berfokus pada proses perkuliahan dan menyelesaikan studi sesuai ketentuan.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa program pendidikan tidak berhenti pada keberangkatan mahasiswa ke perguruan tinggi.

Keberhasilan program juga ditentukan oleh kemampuan peserta menyelesaikan studi dan mengimplementasikan ilmu yang diperoleh setelah kembali ke daerah.

“Ini bukan akhir dari proses pendidikan. Program dan kegiatan harus lahir dari evaluasi yang menyeluruh, karena setiap kegiatan memiliki kelebihan dan kekurangan dalam pelaksanaannya,” harap David.

Disdikpora Dogiyai juga berharap 16 calon mahasiswa tersebut dapat menjalani pendidikan dengan baik, menyelesaikan studi, kemudian kembali untuk berkontribusi dalam pembangunan pendidikan di Kabupaten Dogiyai.

Harapan itu sejalan dengan tujuan program, yakni membangun sumber daya manusia lokal yang memiliki kualifikasi di bidang keguruan dan berpotensi memperkuat pelayanan pendidikan di kampung-kampung.

"Sesuai rencana yang disampaikan Disdikpora, penyerahan calon mahasiswa untuk mengikuti tahapan selanjutnya dijadwalkan pada Senin (19/10/2026)," pungkasnya.

Program ini menjadi salah satu upaya Pemkab Dogiyai menyiapkan tenaga pendidik dari generasi muda daerah.

Ke depan, keberhasilannya akan diukur bukan hanya dari jumlah mahasiswa yang diberangkatkan, tetapi juga dari kelulusan mereka, kepastian pengabdian, dan dampak nyata terhadap kualitas pendidikan bagi anak-anak Dogiyai.(*)




Penulis: CR
Editor: Dani MB
Baca Juga
iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Investasi Masa Depan: 16 Putra-Putri Dogiyai Dikirim ke Unpar Bandung Jadi Calon Guru
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan

Trending Now

iklan
iklan
iklan

Iklan

iklan