Iklan

iklan

Buka PRF XI, Gubernur Meki Nawipa Tegaskan Musik dan Sepak Bola Tidak Terpisahkan dari Orang Papua

Tabloid Daerah
10.16.2026 | 2:40:00 PM WIB Last Updated 2026-10-16T09:46:07Z
iklan
Gubernur Papua Tengah Meki Nawipa saat membuka PRF ke-XI di Area Bandara Lama Nabire, Papua Tengah, Jumat (16/10/2026) sore. /Sie Dok PRF - Deky Mote


[Tabloid Daerah], Nabire -- Gubernur Papua Tengah, Meki Frits Nawipa, menegaskan musik reggae dan sepak bola merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan orang asli Papua (OAP).


Menurutnya, musik bukan sekadar hiburan, melainkan kekuatan sosial yang mampu mempersatukan masyarakat, mempererat persaudaraan, dan menyuarakan perdamaian.

Pernyataan tersebut disampaikan Meki Nawipa saat membuka Papua Reggae Festival (PRF) Ke-XI di kawasan Bandara Lama Nabire, Papua Tengah, Jumat (16/10/2026) sore.

Festival ini diikuti 36 grup band dari berbagai wilayah di Papua.

Dalam sambutannya, orang nomor satu Provinsi Papua Tengah menyampaikan apresiasi kepada panitia, musisi, seniman, serta seluruh pihak yang telah mengambil bagian dalam menyukseskan festival musik reggae tersebut.

“Saya juga menyampaikan terima kasih dan rasa bangga kepada musisi-musisi orang Papua, mulai dari Lelembalim di Papua Selatan hingga yang datang ke Nabire. Saya pikir itu adalah kebanggaan kita semua,” kata Gubernur Nawipa.

Nawipa menilai Papua Reggae Festival memiliki makna lebih luas daripada sekadar pertunjukan musik.

Festival ini menjadi ruang bagi masyarakat untuk merayakan identitas budaya, membangun kebersamaan, dan menyampaikan pesan perdamaian melalui karya seni.

Ia berharap kegiatan tersebut dapat mendorong generasi muda Papua terus berkarya, berinovasi, dan mengembangkan potensi di bidang musik.

“Musik reggae selalu identik dengan orang hitam di dunia ini. Hanya musiklah yang bisa mempersatukan orang di Papua ini. Musik dan bola tidak akan pernah terlepas dari kehidupan orang asli Papua,” tegasnya.

Menurutnya, kreativitas anak-anak Papua melalui musik perlu mendapat ruang dan dukungan agar terus berkembang.

Melalui festival, para musisi dapat memperkenalkan karya sekaligus menunjukkan bahwa seni merupakan salah satu kekuatan untuk membangun hubungan antarmasyarakat.

Nawipa juga berharap PRF dapat berkembang menjadi agenda seni dan budaya yang memberi peluang bagi musisi lokal, seniman, serta pelaku usaha kecil untuk tumbuh bersama.

Dalam kesempatan itu, Nawipa menyatakan Papua Tengah siap menjadi tuan rumah Papua Reggae Festival pada tahun-tahun mendatang apabila tidak ada daerah lain yang bersedia menjadi penyelenggara.

“Kepada Ketua Reggae Grup Papua, kalau tidak ada tempat lain lagi untuk mengadakan ini tahun-tahun mendatang, Papua Tengah menjadi rumah kita bersama untuk mengangkat harga diri ini,” ujarnya.

Ia mengatakan pemerintah provinsi terbuka apabila ada gubernur dari daerah lain yang ingin mengundang penyelenggaraan festival pada tahun berikutnya.

Namun, jika tidak ada undangan dari daerah lain, Papua Tengah siap menggelar kegiatan dengan skala yang lebih besar.

“Kita akan tunggu, kalau ada gubernur lain bisa mengundang, silakan kita lakukan tahun berikut. Tapi kalau tidak, orang saya sudah siap dan dengar, kita akan buat yang lebih besar di sini tahun depan,” tegas Nawipa.

Pernyataan tersebut menjadi sinyal dukungan pemerintah provinsi terhadap keberlanjutan festival reggae sebagai ruang pengembangan seni, budaya, dan kreativitas generasi muda Papua.

Untuk menambah semangat para peserta, Nawipa juga menyampaikan hadiah bagi para pemenang PRF XI. Juara pertama akan memperoleh Rp50 juta, juara kedua Rp30 juta, dan juara ketiga Rp20 juta.

Meski demikian, ia menekankan bahwa festival bukan semata-mata ajang kompetisi untuk menentukan siapa yang terbaik.

Lebih dari itu, panggung reggae merupakan ruang bagi musisi untuk mengekspresikan diri dan menyampaikan pesan tentang perdamaian, persaudaraan, serta kehidupan masyarakat Papua.

Ia mengajak seluruh peserta dan masyarakat untuk menjaga keamanan, ketertiban, dan suasana persaudaraan selama festival berlangsung.

Nawipa turut mengungkapkan kebanggaannya terhadap kekayaan alam Papua Tengah, mulai dari laut, lembah, hingga kawasan pegunungan.

Menurutnya, kekayaan tersebut merupakan anugerah Tuhan yang patut disyukuri dan dapat menjadi sumber inspirasi bagi masyarakat untuk terus berkarya.

Ia juga menyampaikan permohonan maaf apabila terdapat kekurangan dalam penyambutan peserta maupun pelaksanaan kegiatan selama festival berlangsung di Nabire.

Menutup sambutannya, Nawipa mengaku pernah menjadi penggemar musik reggae, meskipun ia tidak memahami cara menyanyikannya.

Namun, ia merasa bangga melihat anak-anak Papua mampu memainkan musik tersebut dan menghibur masyarakat.

“Saya coba akan dengar bagaimana anak Papua bisa memainkan itu, dan kita bangga menjadi anak Papua yang bisa menikmati dan anak Papua yang bisa memainkan musik reggae ini untuk menghibur Kota Nabire ini,” pungkasnya.

Pembukaan PRF XI di Nabire menjadi momentum bagi para musisi dari berbagai wilayah untuk bertemu, menampilkan karya, dan memperkuat persaudaraan melalui musik.

Dukungan pemerintah daerah diharapkan dapat membuka ruang lebih luas bagi perkembangan seni dan budaya Papua sekaligus memberi manfaat bagi masyarakat.(*)




Penulis: Kebagibui Deto
Baca Juga
iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Buka PRF XI, Gubernur Meki Nawipa Tegaskan Musik dan Sepak Bola Tidak Terpisahkan dari Orang Papua
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan

Trending Now

iklan
iklan
iklan

Iklan

iklan