![]() |
| Victor F. Yeimo, Juru Bicara (Jubir) Internasional Komite Nasional Papua Barat (KNPB)/Istimewa |
Kepada kalian pendatang (non-Papua) di tanah ini:
Kalian lahir dan besar di sini. Sejak kalian kecil, dunia kalian sudah dirancang untuk tidak melihat kami sebagai manusia. Sejak kalian bisa bicara, kalian sudah diajari bahwa kami berbeda, bahwa kulit kami gelap, rambut kami keriting, dan karena itu kami bukan bagian dari kalian. Lalu kalian tumbuh dengan kebanggaan palsu: bahwa kalian adalah pembawa peradaban, dan kami adalah beban.
Kalian hidup di tengah kami tapi hati kalian tak pernah sampai kepada kami. Kami menangis di depan mata kalian, tapi kalian memalingkan wajah. Kami dibunuh di jalan, tapi kalian hanya berkata “itu sudah biasa di Papua.” Kami dibakar, dipukul, ditembak, tapi kalian tidak melihat anak-anak yang menjerit memanggil mama mereka di hutan. Kalian hanya melihat berita versi negara; bahwa kami pemberontak, bahwa kami pantas mati. Lalu kalian tidur nyenyak malam itu, sementara ibu kami menimang jenazah anaknya yang ditembak aparat yang katanya datang melindungi kalian.
Kalian bangga menyebut diri “pembangun Papua”, padahal kalian hidup dari reruntuhan rumah kami. Kalian bangun kota, tapi kubur kampung kami. Kalian gali emas, tapi kubur masa depan anak-anak kami. Kalian bangun gereja dan masjid megah, tapi hati kalian kosong, tak mampu melihat bahwa di balik dinding itu, doa-doa kami terkubur bersama rasa takut. Kalian menyebut diri misionaris, guru, pengusaha, pejabat, tapi tanpa sadar kalian telah menjadi bagian dari mesin yang menghancurkan kami perlahan, dengan bahasa manis, dengan senyum sopan, dengan dalih pembangunan.
Kami tahu, tidak semua di antara kalian jahat. Ada yang mencintai kami dengan tulus, yang makan di rumah kami, yang tertawa bersama kami di tanah yang sama. Tapi bahkan kalian pun sering terpenjara oleh ketakutan: takut disebut penghianat, takut dianggap separatis, takut dijauhi keluarga dan paguyuban kalian. Itulah racun yang ditanamkan oleh kekuasaan: bahwa berpihak pada kemanusiaan di Papua adalah dosa. Maka kalian memilih diam. Tapi diam di hadapan ketidakadilan adalah bentuk paling halus dari kekejaman.
Lihatlah dirimu baik-baik. Tubuhmu ini, darahmu, dagingmu, tulangmu, tumbuh dari tanah dan air Papua. Setiap hidangan yang kau makan, setiap tetes keringat yang menetes dari kulitmu, semuanya diberi oleh bumi ini. Tapi kau memilih membela penguasa yang menindas bumi yang memberimu hidup. Apakah itu bukan bentuk pengkhianatan terhadap kemanusiaanmu sendiri?
Kau pikir kami benci kalian. Tidak. Kami hanya lelah dicintai secara palsu. Kami hanya muak disenyumi oleh mereka yang tahu kami disembelih tapi tetap diam. Kami hanya ingin kau sembuh, sembuh dari penyakit yang diwariskan oleh sejarah penjajahan yang membuatmu merasa lebih tinggi dari kami. Kami ingin melihatmu berdiri, bukan sebagai pendatang atau penjajah, tapi sebagai manusia yang hatinya masih hidup.
Kami tidak butuh belas kasihanmu. Kami hanya butuh kau berani menjadi manusia. Berdirilah di sisi kebenaran, walau dunia menuduhmu pengkhianat. Tulis tentang kami, doakan kami, bela kami, bukan karena kami Papua, tapi karena kami manusia seperti kamu. Jangan lagi berpesta di atas penderitaan kami, sebab air mata kami akan tetap membasahi bumi ini sampai kebenaran ditegakkan.
Ketahuilah, kami, bangsa Papua, bahkan dalam luka terdalam kami, masih berjuang memanusiakanmu. Kami masih percaya bahwa suatu hari, ketika penjajahan ini tumbang, kalian juga akan bebas. Bebas dari kebodohan yang membuat kalian buta pada penderitaan orang lain. Bebas dari rasa takut yang membuat kalian berpihak pada penindas. Dan di hari itu, barulah kita bisa saling memandang bukan sebagai pendatang dan tuan rumah, tapi sebagai sesama manusia yang telah disembuhkan oleh kebenaran.
Dariku yang menyaksikanmu, dengan hati yang hancur di Entrop, 19 Oktober 2025.(*)

