Iklan

iklan

Pesan dari Panggung PRF XI: Saat Sagoo Roots Bicara Jaga Lahan Pangan Lokal Melalui Nada dan Irama

Tabloid Daerah
10.16.2026 | 11:28:00 PM WIB Last Updated 2026-10-17T01:29:28Z
iklan
Grup reggae Sagoo Roots menghentak panggung Papua Reggae Festival XI di Nabire, Jumat (16/10/2026), malam pukul 22.20 waktu Papua. /Sie Dok PRF XI - Dekcy Mote

[Tabloid Daerah], Nabire -- Grup reggae Sagoo Roots menghentak panggung Papua Reggae Festival XI di Nabire, Jumat (16/10/2026) malam, sembari menyerukan pesan pelestarian pangan lokal dan perlindungan hutan Papua melalui lirik-lirik bermuatan budaya.




Pantauan TaDahnews.com, Panggung di Area Bandara Lama Nabire itu seolah enggan mendingin meski jarum jam sudah mendekati tengah malam.

Di bawah langit malam Papua Tengah, Jumat (16/10/2026), ribuan pasang mata masih terjaga, menunggu satu nama, Sagoo Roots.

Grup musik asal Manokwari, Papua Barat, ini baru naik pentas pukul 22.20 waktu Papua, namun energi yang meledak di depan panggung justru terasa seperti puncak acara.

Kaka Ambi, sang vokalis, tampil dengan karisma yang memikat.

Di sela dentuman bass yang berat dan ritme gitar yang 'ngayun', ia menyelipkan pesan yang jauh lebih dalam dari sekadar hiburan.

Malam itu, Sagoo Roots membawakan salah satu karya spesial berbahasa Muyu.

Bukan tanpa alasan bahasa dari selatan Papua itu dipilih; ada kegelisahan tentang piring makan orang Papua yang terikat dalam eksistensi kehidupannya, yang kian mulai berubah.

Lagu tersebut menjadi pengingat keras tentang pentingnya sagu, pisang, dan ubi jalar.

Di tengah gempuran tren makanan kota, Sagoo Roots ingin menarik kembali ingatan kolektif masyarakat adat pada jati dirinya.

Kaka Ambi berkali-kali menekankan bahwa menjaga apa yang dimakan berarti menjaga tempat di mana makanan itu tumbuh.

"Pesan moral ini kami sampaikan kepada seluruh masyarakat Papua. Jika kita ingin terus makan sagu, tentu kita harus menjaga pohon sagu itu sendiri," ujar Ambi dengan nada tegas usai penampilannya.

Baginya, hutan bukan sekadar kumpulan pohon, melainkan lumbung hidup yang harus dipertahankan oleh para tokoh adat dan generasi muda.

Meski tampil di jam terakhir, antusiasme penonton tak surut sedikit pun.

Kedisiplinan warga Nabire dalam menjaga keamanan juga mendapat apresiasi khusus dari personel band.

Suasana tetap kondusif, mematahkan stigma negatif yang kerap membayangi kerumunan massa dalam jumlah besar.

Kaka Ambi juga tidak lupa melayangkan pujian bagi Komunitas Rasta Kribo (KORK).

Menurutnya, konsistensi penyelenggara dalam mengangkat tema kebudayaan dan seni dalam Papua Reggae Festival (PRF) adalah langkah berani.

Festival ini membuktikan bahwa musik reggae di Tanah Papua bukan sekadar hura-hura, melainkan alat perjuangan untuk melestarikan bahasa dan alam yang kian terancam.(*)




Penulis: Kebagibui Deto
Baca Juga
iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Pesan dari Panggung PRF XI: Saat Sagoo Roots Bicara Jaga Lahan Pangan Lokal Melalui Nada dan Irama
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan
iklan

Trending Now

iklan
iklan
iklan

Iklan

iklan