![]() |
| Pelajar dan Mahasiswa yang tergabung dalam Solidaritas IPMADO Kota Studi Nabire, Papua Tengah, menggelar aksi demontrasi damai di Nabire, Senin, (28/9/2026). /TaDahnews - #YD |
[Tabloid Daerah], Nabire -- Solidaritas Mahasiswa Dogiyai menggelar aksi damai di Kantor DPRP Papua Tengah, Nabire, Senin (28/9/2026), guna menuntut transparansi hukum dan pengungkapan tuntas atas tragedi Dogiyai berdarah yang menewaskan lima warga sipil Maret lalu.
Pagi di Nabire lepas dini hari, tepat pukul 06.00 waktu Papua, puluhan pemuda mulai memadati titik kumpul.
Mereka bukan sekadar berjalan, melainkan membawa beban sejarah yang belum tuntas; sebuah tuntutan atas nyawa yang hilang.
Di bawah panji Solidaritas Ikatan Pelajar dan Mahasiswa-mahasiswi Dogiyai (IPMADO), massa bergerak menuju Kantor DPRP Papua Tengah dengan memanggul salib merah dan poster-poster yang menagih janji negara.
Aksi damai ini merupakan akumulasi kegelisahan atas peristiwa memilukan pada 31 Maret hingga 2 April 2026 silam.
Kala itu, lima warga sipil dan seorang anggota polisi, Brigadir Juventus Edowai, meregang nyawa dalam rentetan konflik yang menyisakan duka mendalam bagi masyarakat Dogiyai.
Para mahasiswa menuntut proses hukum yang tidak hanya cepat, tetapi juga adil dan transparan.
"Kami meminta Kapolda Papua Tengah dan Kapolres Dogiyai agar segera ungkap pelaku pembunuhan warga sipil," tegas Tipex, penanggung jawab aksi, di tengah riuhnya orasi di halaman kantor legislatif.
Suaranya lantang, menggema di antara deretan aparat yang berjaga.
Tipex mendesak agar Menteri Hak Asasi Manusia tidak menutup mata terhadap realitas berdarah di Tanah Papua.
Narasi penuntasan kasus ini sebenarnya bukan barang baru. Yang mana, pada pertemuan resmi di Aula Digikotu awal September lalu, Kapolda Papua Tengah telah melayangkan janji manis kepada rakyat Dogiyai.
Kapolda bahkan sempat berujar bahwa tabir gelap tragedi ini akan tersingkap sepenuhnya sebelum kalender 2026 berganti ke bulan Desember.
Saat ini, tim penyelidik diklaim masih bekerja mengumpulkan kepingan bukti dan keterangan saksi.
Namun bagi mahasiswa, waktu terus berjalan sementara kepastian hukum terasa berjalan di tempat.
Mereka memilih tetap bertahan di lokasi, bergantian berorasi hingga pernyataan sikap resmi diserahkan kepada perwakilan rakyat di DPRP Papua Tengah sebagai bukti bahwa rakyat Dogiyai menolak lupa.
(#YD)
Editor: Kebagibui Deto

